Senin, 11 Januari 2016

BERAMAL SEPERTI ABU DARDA

BERAMAL SEPERTI ABU DARDA


Setiap seorang dari kita pasti pernah beramal. Ya, saya dan anda pernah mengeluarkan sesuatu untuk beramal, entah itu uang, jasa, barang tertentu. Kita semua pernah beramal.  Lalu, apa yang kita harapkan dari semua amal itu? Pernahkah kita mendapatkan sesuatu yang sepadan dari apa yang kita berikan kepada orang lain? Mungkin pernah. Pernahkah kita tidak mendapatkan apapun meski seuntai kata terima kasih dari orang lain? Mungkin juga pernah. Lalu pertanyaannya, apa yang kita harapkan dari setiap amal yang kita berikan pada orang lain? Uang? Bantuan yang sepadan? Ataukah kita hanya beramal seikhlasnya tanpa mengharap apapun dari orang lain? Wallahu alam.
Mari kita merenung sejenak, untuk apa yang sudah pernah kita berikan terhadap orang lain, tak perlu jauh-jauh. Pertanyakan pada diri anda, apa yang telah anda berikan sebagai amal anda kepada orang-orang terdekat anda. Apa yang sudah anda berikan pada ibu anda? Ayah anda? Saudara-saudara anda? Sesepu-sesepu anda? Teman dekat anda? Mari pikirkan kembali apakah kita pernah mengamalkan sesuatu kepada mereka sementara kita tidak sadar bahwa mereka telah mengamalkan banyak hal kepada kita. Ibu kita memberi kita sesuatu yang lebih berharga dari uang, ayah kita membantu kita tumbuh besar dengan kasih sayang, saudara-saudari kita hidup berbagi bersama kita, dan teman-teman dekat kita memberi kita begitu banyak bantuan yang hampir tak terhitung jumlahnya. Kita mungkin pernah dan mengingat dengan jelas bahwa kita pernah memberikan sesuatu kepada mereka, satu per satu, dalam bentuk uang, jasa, barang tertentu.
Tapi pernahkah anda berpikir tentang suatu hal yang begitu dekat dengan anda namun anda tak menyadarinya dan begitu sukar menghadapnya? Saya akan bertanya kepada anda, hanya anda yang bisa menjawab pertanyaan ini. Jawablah dari lubuk hati anda, dengan sungguh-sungguh. Pernahkah anda memberikan sesuatu amal kepada pencipta kita? Kepada Allah?
Kita tak perlu melihat ke sisi ibu-ibu kita, atau pangkuan ayah-ayah kita, atau sapuan gurau saudara-saudara kita. Lihatlah kepada sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kita, yang keberadaannya sedekat urat nadi kita sendiri, yang mengamati kita di setiap hembus napas kita, yang menjaga kita di setiap detik kita terjaga pun tertidur. Dia-lah sang pencipta, Allah azza wa jaala, tuhan semesta alam. Dia senantiasa menjaga kita, menolong kita, menyayangi kita, bahkan ketika kita mendurhakainya, mengabaikannya, mendustainya. Apakah anda semua tahu, siapa yang amalnya paling besar terhadap kita tanpa kita sadari? Ya, Allah ta’ala.
Katakanlah pada ibu-ibu anda yang merawat anda sedari dalam kandungan hingga seperti sekarang, katakan pada ayah-ayah anda yang mendidik anda hingga sekarang, pun jeritkan pada saudara-saudari dan teman-teman anda yang sudah mendukung hidup anda hingga sekarang! Apakah yang sudah anda berikan kepada Tuhan anda sebagai balasan atas kehidupan yang telah Dia berikan kepada anda?! Kepada setiap hidup yang telah dianugerahkan-Nya terhadap anda! Terhadap segala bentuk kebaikan dan nyawa yang telah diberikan-Nya kepada anda! Pernahkah anda memikirkan tentang betapa berdosanya anda sebagai seorang hamba yang Hina tak menganggap keberadaan Tuhannya?!
Anda dan saya, selalu berfikir tentang apa yang kita lakukan di dunia, tentang apa yang kita hasilkan di dunia sebagai bentuk aktualisasi diri, sebagai bentuk estimasi, sebagai bentuk tindakan untuk menunjukkan eksistensi kita di dunia ini. Lalu pernahkah anda berfikir tentang siapa yang sudah menciptakan anda dan menghadirkan anda ke dunia ini?! Pernahkah anda mengatakan pada diri anda sendiri bahwa anda dan saya hanyalah makhluk ciptaan-Nya yang tidak akan bisa menjadi apapun jika Allah tidak menciptakan kita?
Atas izin Allah azza wa jaala, saya akan mengisahkan kepada anda, cerita seorang sahabat Nabi salallahu alaihi wasalam, orang hebat yang menginfakkan seluruh harta dunianya demi ditukarkan oleh Allah berpuluh-puluh kali lipat di akhirat nanti.
Abu Darda radhiyallahu anhu namanya. Ia adalah seorang pengusaha kaya raya, pemilik sebuah kebun kurma raksasa yang didalamnya berdiri 600 pohon kurma. Dikisahkan dalam sebuah riwayat, bahwa seorang budak sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam mampu membiayai hidupnya dan keluarganya hanya dengan merawat sebuah pohon kurma. Bayangkan betapa kayanya Abu Darda. Di kebun itu juga terdapat rumah dan sebuah sumur kepemilikannya. Rasulullah diriwayatkan sering menikmati kurma segar di kebunnya.
Pada suatu ketika, turunlah wahyu dari Allah kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam. Dalam sepotong ayat itu, Allah berfirman, yang artinya:
“barang siapa yang bisa memberiku pinjaman di dunia, maka niscaya akan aku gantikan berpuluh-puluh kali lipat di akhirat.”
Seketika Abu Darda datang kepada Rasulullah dengan tergesa. Dipandanginya wajah Rasulullah sembari ia bertanya.
“Ya Rasulullah! Apa benar Allah meminta pinjaman kepada kita sementara dia adalah Tuhan yang maha Kaya?!”
Rasulullah menjawab.
“benar. Allah telah memintanya.”
Lalu Abu Darda pun menjawab.
“Ya Rasulullah, ingatkah engkau pada kebun kurma dan rumah yang kumiliki?”
Rasulullah menjawab.
“tentu saja aku mengingatnya.”
Abu Darda dengan tegas menjawab.
“aku akan menginfakkannya kepada Allah untuk kemudian digantikan oleh Allah di akhirat nanti.”
Rasulullah awalnya terkejut. Ia tak pernah menyangka bahwa Abu Darda akan melakukan hal tersebut. Dan kemudian Rasulullah mengatakan.
“kalau begitu, bagi-bagikanlah harta kepemilikanmu (kebun kurma) itu kepada saudara—saudaramu yang kekurangan.”
Abu Darda bergegas kerumahnya selayaknya ia bergegas menghadap Nabi. Lalu ketika ia sampai di depan kebun kurmanya yang bipagai apik menghalau segala perusak, Abu Darda melihat isteri dan anaknya sedang asyik menikmati buah kurma basah di bawah pohon-pohon kurmanya. Maka Abu Darda berseru kepada isteri dan anaknya.
“wahai isteriku! Keluarkanlah anak-anak kita dari kebun ini!”
Isteri Abu Darda keheranan. Ia bingung mengapa suaminya tidak mau masuk ke dalam kebun itu sementara itu adalah kepemilikannya? Maka bertanyalah isterinya.
“ada apa, wahai Abu Darda?! Mengapa kau tak hendak masuk ke dalam kebunmu sendiri?!”
Abu Darda menjawab.
“kebun ini sudah bukan milik kita lagi, aku sudah menjualnya!”
Isteri Abu Darda awalnya terkejut. Wanita yang sudah ditarbiyah dengan baik itupun bertanya kembali.
“kau menjualnya kepada siapa, suamiku?!”
Abu Darda setengah menjerit saat panas mentari menyengat-nyengat.
“aku telah menjualnya kepada Allah untuk digantikan dengan sesuatu yang lebih besar di akhirat nanti!”
Isteri Abu Darda terkesiap, maka wanita itupun tersenyum, dan berkata.
“masyaallah..., sungguh itu adalah sebuah investasi yang sangat luar biasa.”
Kemudian isteri Abu Darda mulai memeriksakan kantong anak-anaknya supaya tak ada satupun biji kurma yang terbawa, adapun seorang dari anaknya telah memasukkan biji kurma itu ke dalam mulutnya, maka isteri Abu Darda mengeluarkannya sambil berkata.
“buah kurma ini sudah tidak halal lagi bagi kita, anakku. Ayahmu telah menjualnya kepada Allah.”
Masyaallah..., betapa mengagumkannya sahabat Nabi. Bukan hanya dia seorang, banyak sahabat-sahabat Nabi yang telah berinfak kepada orang lain tanpa meminta balasan duniawi seperti ucapan terima kasih, atau imbalan yang setimpal. Mereka mengharapkan ridha Allah melebihi apapun. maka hendaklah kita meniru hal serupa dengan yang mereka lakukan.
Nah, sekarang saya akan bertanya kembali kepada anda. Cobalah untuk menjawab pertanyaan ini sebaik mungkin semampu anda. Ingat, anda dan saya adalah sama, kita adalah ciptaan Allah azza wa jaala. Tak inginkah anda menginfakkan sesuatu kepada Allah?
Bahkan setelah wahyu tersebut turun, kemudian dituliskan kedalam Al-Qur’an dan diucapkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, tidakkah hati anda terketuk untuk sesegera mungkin mengoreksi diri sendiri? Anda tak perlu menceritakan pada orang lain tentang niat anda kepada Allah, anda tidak perlu memberitakan apa yang ingin anda berikan kepada orang-orang di sekitar anda. Mulailah dari hal-hal kecil, tak perlu langsung menyumbangkan seluruh harta benda anda kepada Allah seperti Abu Darda. Mulailah dari Shalat 5 waktu sehari semalam, berzikir kepada Allah, bershalawat kepada Nabi shalaulahu ‘alaihi wasallam, dan membaca kitab Al-Qur’an! Semua hal-hal kecil itu adalah bentuk infak kepada Allah, dan seperti janji Allah dalam firmannya, bahwa semua hal tersebut akan digantikan-Nya di akhirat nanti berpuluh-puluh kali lipat lebih baik dari apa yang sudah kita perbuat selama di dunia.
Masih ragukah anda untuk berinfak? Masih ragukah anda terhadap syurga-Nya? Tak inginkah anda melihat Tuhan anda? Mulailah dengan menginfakkan hal-hal kecil, kemudian perlahan-lahan, berserahlah kepada-Nya, insya allah hidup anda akan diberkati oleh-Nya. Wallahu alam.


Selasa, 06 Oktober 2015

PENGERTIAN DAN UNSUR-UNSUR PENDIDIKAN
A. Pengertian Pendidikan
1.      Batasan tentang Pendidikan
Pendidikan, seperti sifat sasarannya yaitu manusia, mengandung banyak aspek dan sifatnya sangat kompleks. Karena sifatnya yang kompleks itu, maka tidak semua batasan pun yang cukup memadai untuk menjelaskan arti pendidikan secara lengkap.
Di bawah ini dikemukakan beberapa batasan pendidikan yang berbeda berdasarkan fungsinya.
a.       Pendidikan sebagai Proses Transformasi Budaya
Sebagai proses transformasi budaya, pengertian diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi kegenerasi lain. Seperti bayi lahir sudah berada dalam lingkungan buadya tertentu. Di dalam lingkungan masyarakat dimana seorang bayib dilahirkan telah terdapat kebiasaan-kebiasaan tertentu, larangan-larangan dan anjuran, dan ajakan tertentu seperti yang dikehendaki oleh masyarakat.
b.      Pendidikan sebai Proses Pembentukan Pribadi
Sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagai suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah pada terbentuknya kepribadian peserat didik. Proses pembentukan pribadi meliputi dua sasaran yaitu pembentukan pribadi bagi mereka yang belum dewasa oleh mereka yang sudah dewasa, dan bagi mereka yang sudah dewasa atas usaha sendiri. Yang terakhir ini disebut pendidikan diri sendiri ( zelf vorming ). Bayi yang baru lahir kepribadiannya belum terbentuk, belum mempunyai warna dan corak kpribadian tertentu. Ia baru merupakan individu, belum suatu pribadi.
c.       Pendidikan sebagai Proses Penyiapan Warga Negara
Pendidikan sebagai penyiapan warga negara diartikan sebagai suatu kegiatan yang terancang untuk membekali peserta didik agar menjadi warga negara yang baik. Tentu saja istilah baik disini berisfat relatif, tergantung kepada tujuan nasioanal dari masing-masing bangsa, oleh karena masing-masing bangsa mempunyai falsafah hidup yang berbeda-beda.
d.      Pendidikan sebagai Penyiapan Tenag Kerja
Pendidikan seabagai penyiapan tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar untuk bekerja. Pembekalan dasar berupa pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan kerja pada calon lauran. Bekerja menjadi penopang hidup saseorang dan keluarga sehingga tidak bergantung dan mengganggu orang lain.


e.       Definisi Pendidikan Menurut GBHN
Pendidikan nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan Pancasila serata UUD 1945 diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta harkat dan martabat bangsa, mewujudkan manusia dan masyarakat indonesia untuk beriaman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berkualitas, dan mandiri sehingga mampu membangun dirinya dan masyarakt sekelilingnya serta dapat memenuhan kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
2.      Tujuan dan Proses Pendidikan

a.       Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Karena itu yujuan pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan suatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan. Sebagai suatu komponen pendidikan, tujuan pendidikan menduduki posisi penting di antara komponen-komponen pendidiakan lainnya.
b.      Proses Pendidikan
Proses pendidikan merupakan kegiatan memobilisasi segenap komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan. Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan pengelolaannya. Kedua segi tersebut sama lain saling bergantung. Walaupun komponen-komponennya cukup baik, seperti tersedianya perasarana dan sarana serta biaya yang cukup, jika tidak ditunjang dengan pengelolaan yang andal maka pencapaian tujuan tidak akan tercapai secar optimal.
Yang menjadi tujuan utama pengelolaan proses pendidikan yaitu terjadinya proses belajar dan pengelaman belajar yang optimal. Sebab berkembangnya tingkah laku peserta didik sebagai tujuan belajar hanya dimungkinkan oleh adanya pengalaman belajar yang optimal itu.
3.      Konsep Pendidikan Sepanjang Hayat ( PHS )
Konsep ini akan dikemukakan secara rinci karena mendasari arah baru dunia pendidikan. Ide dan konsep pendidikan sepanjang hayat ( PHS ) atau pendidikan seumur hidup yang secara operasional sering pula disebut “pendidikan sepanjang raga” bukanlah suatu yang baru. Sebagai konsep yang ilmiah dan sekaligus sebagai gerkan global yang mermbah kebrerbagai negara memang baru mulai dirasakan pada tahun 70-an. PHS yang dalam prakteknya telah lama berlangsung secara alamiah dalam kehidupan manusia itu dalam perjalanannya menjadi pudar, disebabkan oleh semakin kukuhnya kedudukan sistem pendidikan persekolahan ditengah-tengah masyarakat. PHS bukan suatu sistem pendidikan yang berstuktur, melainkan suatu prinsip yang menjadi dasar yang menjiwai seluruh organisasi sistem pendidikan yang ada.
4.      Kemandirian dalam Belajar

a.       Arti dan Prinsip yang Melandasi
Kemandirian dalam belajar diartikan sebagai altivitas belajar yang belangsungnya lebih diorong oleh kemauan sendiri, pilihan sendiri, dan tanggung jawab sendiri dari pembelajar. Konsep kemnadirian dalam belajar bertumpu pada prinsip bahwa individu yang belajar hanya akan sampai pada perolehan hasil belajar, muali keterampilan, pengembangan penalaran, pembentukan sikap sampai kepada penemuan diri sendiri, apabila ia mengalami sendiri dalam proses perolehan hasil belajar tersebut.
b.      Alsan yang Menopang
Sehubungan dengan alsan perkembangan iptek tersebut, Raka Joni menyatakan percepatan perubahan benar-benar telah mengusahakan banyak hasil belajar dalam waktu yang semakin cepat. Konsep dasar kemandirian dalam belajar sebagaimana dikemukakan itu membawa implkasi kepada konsep pembelajaran, peranan pendidik khususnya guru, dan peranan peserta didik.
Belajar diartikan sebagai aktivitas pengembangan diri melalui pengalaman, bertumpu pada kemampuan diri dalam belajar dibawah bimbingan belajar.
Mengajar diartikan sebagai aktivitas mengarahkan, memberikan kemudahan bagaimana cara menemukan sesuatu (bukan memberi sesuatu) berdasarkan kemampuan yang dimiliki oleh pelajar.

B.   Unsur-Unsur Pendidikan
Proses pendidikan banyak hal, yaitu:
1.      Subjek yang dibimbing (peserta didik)
2.      Orang yang membimbing (pendidik)
3.      Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)
4.      Ke arah mana bibingan ditujuukan (tujuan pendidikan)
5.      Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan)
6.      Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode)
7.      Tempat dimana peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan)



1.      Peserta Didik
Dalam pandangan modern, peserta didik diartikan sebagai subjek atau pribadi yang otonom, yang ingin diakui keberadaannya. Ciri khas peserta didik yang perlu dipahami oleh pendidik ialah:
a.       Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga merupakan insan yang unik.
b.      Individu yang sedang berkembang
c.       Individu yang membutuhkanbimbingan individual dan perlakuan manusiawi.
d.      Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri.

2.      Pendidk
Yang dimaksud dengan pendidik ialah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkunagan yaitu lingkungan keluarga, linkungan sekolah, dan lingkungan myarakat. Pendidik diharuskan memiliki kewiawaan yang ditopang oleh 3 sendi utama, yaitu keperayaan, kasih sayang, dan kemampuan.
3.      Inetraksi Edukatif antar Peserta Didiki denagn Pendidik
Interaksi edukatif pada dasarnaya adalah komunikasi timbal balik antara peserta didik dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan memanipulasi isi, metode serta alat-alat pendidikan.
4.      Materi/Isi Pendidikan
Materi inti bersifat nasional yang mengandung misi pengendalian dan persatuan bangsa. Sedangkan muatan lokal misinya ialah mengembangkan kebhinnekaan kekayaan budaya sesuai dengan kondisi lingkungan.
5.      Konteks yang Mempengaruhi Pendidikan

a.       Alat dan Metode pendidikan merupakan dua sisi dari suatu mata uang. Alat dan metode diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan ataupun diadakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan.
b.      Tempat peristiwa bimbinagan berlangsung (lingkungan pendidikan) biasa disebut tri pusat pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat.







Minggu, 13 September 2015

WAR OF GODS
(1st Novel Project)


Genre: Fantasy, Friendly, Actions, Adventure

Disclaimer by Me


BAB I
PROLOGUE

Dahulu kala, sebelum dunia diciptakan, hanya kehampaan yang memenuhi ruang. Semua berputar dan berpusat pada ruangan yang tidak berpenghuni. Ruang itu adalah milik Tuhan, dialah yang mengatur segala yang berada di ruangan tersebut, meski kosong. Suatu hari, Tuhan menciptakan 3 orang malaikat, kemudian kepada masing-masing malaikat tersebut diberikan-Nya lah nama, Mellekith, Avrora, dan Azrael. Tuhan memerintahkan mereka setelah diberikan kepada mereka kuasa dari-Nya untuk menciptakan dunia di dalam sebuah pohon. Maka bertanyalah Mellekith.
“Wahai Tuhanku, pencipta yang membawaku kepada kehampaan ini, seperti apakah dunia yang engkau kehendaki?”
Tuhan mengalihkan pertanyaan Mellekith pada Azrael dan Avrora, bertanya pada keduanya apakah ada diantaranya yang mengetahui maksud Tuhan mereka. Tetapi Arael dan Avrora sama sekali tidak memahaminya. Maka Tuhan mengangkat tangan kanannya lalu seberkas cahaya keluar dari sana, dan saat itulah hari pertama cahaya diciptakan. Ketiga malaikat Tuhan tidak mengetahui benda apa yang berada di tangan tuhannya, lalu cahaya itu berpendar dan terbagi-bagi menjadi 7 buah bola raksasa yang sama terangnya. Dan berkatalah Tuhan.
“ciptakanlah dunia yang aku kehendaki, tanamlah benih Yggdrasil di kehampaan ini, lalu dia akan tumbuh menjadi akar, batang, dan daun dunia-dunia. Hubungkan dunia-dunia itu dari sebuah aliran sungai yang menghidupinya, dan kemudian akan aku berikan nyawa yang berbeda-beda kepada setiap dunia.”
Mellekith, Avrora, dan Azrael menatap Tuhannya, kemudian bertanyalah lagi Avrora.
“seberapa banyakkah dunia-dunia yang engkau kehendaki wahai tuhanku?”
“buatlah dunia sebanyak cahaya yang aku ciptakan.”
Maka setelah perintah Tuhan diberikan pada ketiga malaikat itu, mereka pergi bersama-sama ke pusat kekosongan, di tangan Mellekith telah digenggam benih Yggdrasil. Avrora meletakkan benih itu di tengah kehampaan, kemudian Azrael memohon doa kepada Tuhan untuk menumbuhkan benih Yggdrasil. Maka setelah itu, benih tersebut bergerak-gerak, kemudian cahaya yang sangat terang keluar dari benih itu dan dalam pengaruh waktu di kekosongan itu, benih tersebut segera tumbuh menjadi pohon raksasa yang sangat besar dan mengisi hampir seluruh kehampaan.
Setelah benih Yggdrasil berubah menjadi pohon Yggdrasil, maka berpencarlah Mellekith, Azrael, dan Avrora pada setiap bagian pohon itu. Mellekith terbang dan berdiri di akar-akar Yggdrasil yang besar dan menjuntai, di sana, ia menciptakan Jotunheim, dunia yang dipenuhi oleh es. Dunia yang diciptakan oleh Mellekith adalah tempat untuk membuang nyawa-nyawa yang hendak diciptakan tuhan jika mereka menentang Tuhan. Azrael hinggap di batang raksasa Yggdrasil, di sana, dia menciptakan 3 dunia, yaitu Alfheim, Elven Garde, dan Maleficfheim. Ketiga dunia itu dipenuhi oleh hiasan indah dan pernak-pernik yang berkilauan dari emas, ruby, berlian, dan sumber daya yang melimpah. Avrora mengepakkan sayapnya dan terbang ke puncak Yggdrasil, di puncak itu, Avrora menciptakan 3 dunia, yaitu Avantheim, Midgard, dan Elkia.
Kemudian, setelah ke-7 dunia itu diciptakan atas perintah Tuhan, maka tuhan dari singgasananya mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya, ia bermaksud menciptakan nyawa-nyawa dari ketiadaan untuk mengisi dunia yang sedang kosong itu. Dari tangan Tuhan, diciptakanlah 7 jenis nyawa yang berbeda dengan kemampuan yang telah dikehendaki oleh tuhan dan akan menghuni masing-masing dunia yang telah di ciptakan sebelumnya. Namun sebelum itu, tuhan telah menciptakan bentuk energy yang special dan dapat digunakan dan dimanipulasi oleh nyawa-nyawa yang hendak diciptakannya nanti. Energy itu kemudian disebut dengan Mana. Lebih lanjut, Mana adalah sebuah bentuk energy dari alam yang menyatu dengan setiap roh makhluk hidup. Mana berada di mana-mana, dan ke-7 ras yang diciptakan mampu memanipulasi mana yang tersedia di sekliling mereka untuk kepentingan mereka sendiri.
Pertama-tama, Tuhan menciptakan nyawa dari daun-daun Yggdrasil, kemudian dibentuklah Elf. Ras pertama yang diciptakan adalah Elf yang diberkati oleh tuhan untuk menghuni Elven Garde. Elf memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu dari Mana dan digunakan untuk membuat pujian kepada Tuhan. Setelah itu, Tuhan mengambil tanah dari Jotunheim yang keras dan berbatu. Dari tanah itu Tuhan menciptakan ras Beast. Beast diberkahi kekuatan fisik yang luarbiasa oleh Tuhan, dan itulah bentuk Mana yang mereka miliki. Beast diberikan oleh tuhan dunia bernama Maleficfheim. Setelah itu, Tuhan mengambil kulit dari batang pohon Yggdrasil, ia kembali membuat nyawa dari kulit batang pohon tersebut dan menciptakan ras Wizard. Ras Wizard memiliki kekuatan hebat jika berurusan dengan Mana, dan tuhan memberikan mereka tempat di Elkia. Lagi, tuhan kini mengambil angin yang berhembus diantara dedaunan Yggdrasil, kemudian dari angin tersebut tuhan menciptakan para Humanoid, ras yang merupakan bentuk teratas dengan kekuatan yang kuat untuk memanipulasi berbagai macam bentuk. Ras humanoid diberikan tanah bernama Midgard. Selain itu, Tuhan juga mengambil awan-awan yang bergantungan di langit Midgard, kemudian dari awan-awan tersebut Tuhan membentuk para ras malaikat yang diberkahi sayap yang berkilauan, tetapi tidak dapat menerbangi ruang diluar jangkauan langit mereka, dan makhluk itu diberikan-nyalah Avantheim. Ketika ras ke-5 selesai di buat oleh Tuhan, Mellekith, Avrora, dan Azrael tiba di hadapan-Nya, kemudian bertanyalah Azrael.
“wahai Tuhanku, mengapa engkau menciptakan nyawa-nyawa ini?”
“aku menciptakan mereka karena alasan yang tidak kau ketahui.”
Ketiga malikat itu terdiam di hadapan tuhan mereka. Kemudian, tanpa sengaja Mellekith mengintip masa depan dari 7 dunia yang mereka ciptakan. Raut ketakutan menghiasi wajah jelita Mellekith, iapun menatap lagi tuhannya dan bertanya.
“wahai Tuhanku, bukankah menciptakan nyawa-nyawa ini adalah sumber dari bencana? Mereka akan berperang demi kekuasaan dan kekuatan, maka hendaklah enkau wahai tuhanku menimang lagi untuk menciptakan nyawa-nyawa itu”
Maka murkalah tuhan kepada Mellekith, seketika rantai-rantai neraka mencengkeram tubuh mellekith sampai ke ujung rambutnya, lalu berkatalah Tuhan.
“wahai Mellekith, siapakah yang menciptakanmu? Dan siapakah yang telah engkau ingkari rencana-Nya?”
“mohon berikanlah hambamu pengampunan wahai tuhanku, berkatilah aku dijalan yang engkau rencanakan”
Rantai-rantai neraka itu melepaskan mellekith, dan tuhan mengampuninya. Ketiga malaikat itu kemudian duduk bersipuh di hadapan sang tuhan dan melihat-Nya menciptakan makhluk-makhluk berikutnya.
Setelah makhluk ke-5 diciptakan, tuhan mengambil air dari sungai Neil, sungai yang menghubungkan ke-7 dunia dalam Yggdrasil lalu oleh-Nya ia menciptakan Valkirie, makhluk yang mampu memanggil kekuatan lain untuk membantunya. Valkirie diberikan dunia bernama Alfheim. Dan nyawa terakhir yang diciptakan oleh Tuhan, adalah Manusia. Manusia tidak diberkati kekuatan sihir oleh Tuhan, tetapi mereka diberikan keistimewaan untuk memilih dan merajut pengalaman untuk terus belajar dan memerintah daerah kekuasaan mereka, sehingga ke-6 ras lainnya tunduk terhadap peraturan yang mereka buat. Manusia tidak diberikan dunia sendiri, tetapi mereka berada di ke-6 dunia dan tersebar. Tuhan merasakan bahwa keberadaan ke-7 ras tersebut tidaklah seimbang, maka ia menciptakan makhluk lain selain mereka, yaitu berbagai makhluk yang berada di sekeliling ras-ras itu, hewan, tumbuhan, dan sebagainya.
Setelah Tuhan selesai menciptakanke-7 nyawa tersebut, maka mereka dilemparkan ke dunia-dunia yang telah diciptakan sebelumnya. Sejak saat itu, Manusia membuat peraturan yang dipatuhi oleh seluruh Ras yang ada di ke-7 dunia itu, dan semuanya menjadi damai. Tetapi damai itu tidaklah bertahan sesuai perkiraan Mellekith, Azrael, dan Avrora.
Salah satu ras memulai perang, menganggap diri mereka adalah nyawa yang paling mulia diantara yang lain dan merendahkan nyawa yang seharusnya menjadi sekutu mereka. Maka mereka memakai karunia Tuhan (mana) untuk melakukan hal yang menuai kehancuran dan bencana. Ras itu menghancurkan segalanya, saling membunuh, dan kemudian berperang. Ketujuh dunia terluka dan krisis akibat peperangan. Setelah itu, nyawa-nyawa yang lain pula mulai saling memusuhi satu sama lain diantara mereka, dan perang yang berkecamuk semakin menyiksa dunia-dunia, bahkan Yggdrasil memohon kepada tuhan untuk menghentikan perang itu.
Mellekith menangis tersedu-sedu di hadapan Tuhan, ia melihat perang yang mengerikan itu dari lubang pohon Yggdrasil dan mengadukannya pada tuhan, lalu Tuhan berkata.
“Mellekith, Avrora, Azrael, turunlah kamu semua ke atas dunia yang telah Aku kehendaki, kemudian carilah diantara mereka orang-orang bijak yang akan menentramkan perang. Berkati kepada mereka kekuatan yang sejajar dengan kehancuran perang itu”
Ketiga malaikat itu mengepakkan sayap mereka kemudian turun ke dunia-dunia yang tengah berperang itu. Ketika mereka melewati Alfheim, air mata Mellekith berubah menjadi darah. Di bawah sana, tidak ada yang bertahan layaknya penciptaan mereka pada mulanya, tanah yang dulunya berkilauan kini gosong oleh api dan kesengsaraan, bebungaan yang berwarna-warni tidak lagi menyisakan satu kuncup pun.
Akhirnya, mereka sampai di ujung perang. Ke-7 ras yang tengah berperang itu menyadari kehadiran Mellekith, Azrael, dan Avrora. Ras pertama yang mengacungkan senjata kepada mereka, adalah Manusia, dan merekalah ras yang memulai perang pada awalnya. Jadi Mellekith menyampaikan murka kepada mereka. Setelah itu, Mellekith, Azrael, dan Avrora menunjuk perwakila dari ketujuh ras, dan perang itupun dihentikan. Setelah perang itu berakhir, maka mereka yang telah kecanduan oleh perang itu dibuang ke Jotunheim, dan di sanalah mereka menemukan kesengsaraan akibat perang yang mereka akibatkan.

20 Agustus tahun 774 (waktu manusia), Alfheim.
Tangan-tangan keriput seorang kakek menutup buku tebal yang baru saja dibacanya, kacamatanya sedikit ia benarkan. Buku setebal kira-kira 300 halaman itu dia letakkan di atas meja. Sekelilingnya dipenuhi oleh rak-rak lebar nan tinggi yang diisi oleh buku di setiap ruasnya. Sebuah meja persegi panjang dengan ukuran sepanjang 2 meter berdiri tegak sebagai tempat baginya meletakkan buku-buku yang telah dibacanya, kursi-kursi kayu dengan ukiran indah mengelilingi meja tersebut sebanyak 4 buah. Tak jauh dari buku tebal yang baru saja diletakkannya, bertumpuk pula bku-buku lain yang tebalnya serupa. Suara kursi yang digeser terdengar, berikutnya adalah suara tawa kecil seorang anak. Dari kolong meja di depan kursi di hadapan kakek tua itu, muncul seorang anak lelaki. Kakek tua itu agak tersentak, namun mengulum senyum kemudian. Kacamatanya ia perbaiki lagi.
“kemarilah, Yui. Apa kau senang mendengar cerita itu?”
Anak kecil itu berlari kecil mengelilingi meja panjang itu lalu berdiri di dekat sang kakek. Anak itu mengangguk sambil tersenyum. Rambutnya acak-acakan, wajahnya sangat polos namun terlihat begitu manis dan bulat. Matanya berhiaskan iris caramel yang senada dengan warna rambutnya. Sang kakek mengelus pelan surai anak itu sambil tersenyum.
“kakek, bisakah kakek membacakannya lagi?”
“haa? Bukankah kau sudah mendengarnya sebanyak 4 kali hari ini? apakah tidak ada buku lain yang Yui inginkan ketika di perpustakaan selain buku itu?”
Anak berumur 8 tahun itu mengerucutkan bibirnya tanda sebal, itu kemudian mengundang tawa sang kakek yang malah menambah ekspresi masam anak bernama Yui itu.
“baiklah, baiklah. Tapi sebelum itu, maukah kau mencari Huse? Mungkin dia sedang membaca di suatu tempat dan ketiduran”
“ah, kakak ya? Baiklah, akan kucarikan. Tapi setelah itu, kakek harus membacakan cerita itu lagi ya”
“haha…, baiklah, kau dan Huse akan mendengarnya bersama-sama”
“tentu”
Yui meninggalkan kakeknya. Ia berjalan cepat mengelilingi setiap rak buku yang berdiri tegap dalam ruangan tersebut untuk menemukan Huse, saudaranya. Yui hafal semua sudut dan letak setiap rak di dalam perpustakaan ini, itu karena kakeknya sudah mengajaknya ke sini sejak ia berumur 5 tahun, selain itu Yui juga menghafal banyak judul buku melegenda yang tersusun di rak-rak itu, termasuk buku yang baru saja habis dibacakan oleh kakeknya yang berjudul “Hari Penciptaan Dunia”, buku istimewa yang sangat di senanginya .
Setelah berjalan sekitar lebih 5 menit, Yui akhirnya menemukan sosok yang dicarinya. Seorang anak lelaki sedang tertidur pulas diatas sejumlah tumpukan buku tebal. Yui tertawa kecil, itulah Huse. Huse adalah kakak Yui yang berumur 2 tahun lebih tua darinya. Huse selalu mencari buku-buku yang menurutnya menarik, lalu ketika dia sudah sangat tunduk untuk membacanya dan terlarut, dia akan tertidur bersama buku-buku itu di dekatnya. Yui mendekati kakaknya itu, sebuah buku tebal di dekat Huse diambil oleh Yui, kemudian dengan sepasang tangan kecil nakal itu, buku tebal tersebut dibuka kemudian ditutup dengan sangat kasar sehingga menyebabkan bunyi yang cukup keras dan Huse terbangun dengan sangat tidak elit. Yui tertawa melihat kakaknya sekarang. Rambutnya berantakan, setetes iler menggantung di sudut bibirnya, dan pandangannya sayu seperti seorang pekerja yang begadang.
“haha…, kakak, kau terlihat jelek.”
Huse masih belum sadar sepenuhnya dari tidur nyenyaknya bahkan setelah mendengar suara buku tersebut. Beberapa fraksi detik kemudian, semua nyawanya terkumpul dan kesadarannya kembali. Wajah Huse memerah ketika menyadari Yui tengah menertawainya. Selalu seperti ini.
“Yui, sudah kukatakan untuk tidak membangunkanku”
“haha…, tapi kakek memanggil kita”
“heeh?”
“ya, karena itu, kita harus kembali ke ruang baca sekarang”
“um, baiklah. Kau duluan saja”
“hmm…, tapi kakak harus berjanji untuk tidak tertidur lagi”
“baiklah, aku berjanji”
Yui melangkah meninggalkan sang kakak dan menuju tempat di mana sang kakek menunggunya untuk cerita yang ingin di dengarnya, sementara Huse merapikan buku-buku yang tadi dibacanya, sebelum sang penjaga perpustakaan kembali dan memarahinya. Yui bersenandung ria dalam langkahnya, senyum bahagia terpatri di bibirnya, pikirannya melayang pada kisah yang selalu di dengarnya. Buku yang dikaguminya itu pertama kali dibacakan oleh kakeknya beberapa bulan lalu, ketika musim semi di Alfheim. Mereka membaca buku itu di bawah pohon Claire yang sedang memekarkan bunganya di batang pohonnya, bersama beberapa ekor Forrest Pixy dan binatang-binatang kecil. Yui tertarik mengenai peciptaan dunia dan juga perang yang berkecamuk itu. Tetapi hal yang membuatnya sangat menyukai buku tersebut, adalah Yggdrasil. Dalam buku itu, Yggdrasil dikatakan menopang 7 dunia, tetapi yang ada di kenyataan adalah 7 benua dengan nama yang sama dengan di kisah tersebut. Jotunheim adalah kota penjara terbesar bagi orang-orang penyulut perang ribuan tahun lalu, tapi, konon katanya orang-orang yang dipenjara itu belum mati hingga sekarang. Hal itu dikarenakan, waktu di Jotunheim tidak berjalan, jadi orang-orang itu menderita untuk selamanya tanpa ada jalan keluar.
Sebuah beban tersampir dipunggungnya, membuat Yui kehilangan keseimbangan akibat beban tersebut dan terjatuh. Matanya melirik ke belakang, Huse mengalungkan lengannya di leher Yui dengan senyum yang manis. Beban itu, Huse, tidak segera menyingkir dari tubuh Yui yang notabane lebih kecil darinya bahkan setelah Yui memintanya untuk berdiri.
“kakak…, kau berat!”
“Yui, kau harus bisa mengangkat tubuhku jika kau ingin kuat!”
“siapa yang bilang begitu?”
“kakek mengatakannya”
“heeh…? Kakek tidak pernah mengatakan itu!?
“tapi kau tetap harus menggendongku untuk membawaku sampai di tempat kakek”
“heeh…?”
Seseorang membersihkan tenggorokannya, perhatian Yui dan Huse teralihkan pada orang itu. Di sebelah mereka, berdiri pada sisi rak yang tinggi, penjaga perpustakaan, Gillian, salah satu Grand Elf di Alfheim, dia juga adalah pemilik perpustakaan ini. Gillian adalah orang yang tidak suka keributan, menegur bukanlah keinginannya karena dia sangat menghormati ketenangan. Tetapi hal itu tidak berlaku untuk Huse dan Yui. Gillian beberapa kali ingin memberikan hukuman pada mereka karena menjadi terlalu brisik di perpustakaan, tetapi beberapa kali pula ia urungkan ketika mengingat sosok kakek Yui adalah sahabatnya.
“Yui, Huse…, bisakah kalian bermain di tempat lain?”
“e-eeh…, ba-baiklah, tuan Gillian, maafkan kami”
Cepat-cepat huse menyingkir dari tubuh adiknya, berdiri tanpa membersihkan pakaiannya yang mungkin kotor karena debu dan segera berlari ke tempat kakeknya berada, begitu pula Yui. Mendengar ceramah dari seorang Grand Elf dapat menyita waktu dan mana, karena itu, menyingkir adalah hal yang terbaik untuk dilakukan.
Yui dan Huse berdiri sambil bernapas dengan terengah-engah ketika sampai di hadapan sang kakek. Kakek mereka hanya menatap kedua kakak beradik itu dalam diam. Yui dan Huse segera menarik masing-masing kursi ketika merasakan napas mereka mulai teratur dan detak jantung yang sudah mulai melambat. Keduanya duduk berdampingan menghadap sang kakek.
“apa kalian bertemu tuan Gillian lagi?”
“um. Dan setiap hari dia terlihat lebih menakutkan”
“AKU MENDENGAR ITU, ANAK MUDA!!!”
Suara Gillian yang muncul dari rak-rak buku itu mengejutkan kedua kakak beradik itu, tubuh mereka merinding karena terkejut. Kakek mereka tertawa kecil.
“haha…, kalian tangan terus menyusahkan tuan Gillian. Apa kalian mau diubah menjadi sebuah sampul atau pembatas buku?”
“tidak kakek, aku tidak mau!!”
“aku juga…”
“yasudah, yang penting kalian berjanji untuk tidak mengulanginya lagi”
“um. Kalau begitu, sekarang kakek harus menceritakan cerita itu lagi ya”
“baiklah, jika Yui menginginkan itu”
Kakek itu meraih buku tebal yang sudah selesai dibacanya beberapa menit yang lalu. Tangan-tangan keriputnya kembali membuka buku tersebut di halaman sekian di mana terdapat kisah yang juga baru saja selesai di bacanya. Huse memperhatikan lagi sampul buku tersebut, tangannya ia letakkan di sisi meja, menunjukkan jemarinya yang lentik, badannya sedikit ia condongkan.
“kakek, apa kita akan mendengar cerita itu lagi?”
“heeh? Memangnya kenapa?”
“duh, Yui, apa kau tidak bosan mendengar kisah itu?”
“tidak sama sekali. Bukankah itu bagus?”
“hh…, baiklah. Ah, kakek, adakah yang memimpin ke-7 ras saat ini?”
“Huse, kau mengganggu kakek”
“diamlah Yui.”
Kakeknya mengambil pose berpikir menanggapi pertanyaan Huse. Matanya sedikit ia pejamkan, lalu beberapa fraksi detik kemudian ia memasang wajah yang serius.
“tentu saja ada.”
“whoa…, siapa itu?”
Yui mengerucutkan bibirnya tanda tidak suka diacuhkan. Sebaliknya, Huse malah lebih bersemangat.
“mereka adalah perwakilan yang ditunjuk dari ke-7 Ras. Sejak berakhirnya perang, mereka bertujuh membuat kesepakatan perdamaian atas nama Tuhan dan memutuskan tali perang diantaranya.”
“apakah mereka punya kekuatan yang besar?”
“tentu saja. Mereka dikenal karena keagungan dan kebijaksanaan mereka. Orang-orang memanggil mereka The Great Guardians. Kekuasaan mereka meliputi seluruh negeri, dan dengan kekuasaan itu, mereka membuat hukum dan peraturan yang mengatur batas-batas daerah dan hak juga kewajiban setiap ras. Hukum itu kemudian dikenal dengan Hukum Teritori.”
“aku ingin menemui mereka. Apakah mereka tinggal di sini?”
“haha…, tidak, Huse, mereka tinggal di menara surga Avantheim, tempat yang sangat sacral untuk dikunjungi oleh rakyat biasa seperti kita”
“sayang sekali…”
Sang kakek melirik jam yang tergantung di dinding pada ujung ruangan tersebut, jam yang menunjukkan waktu sekarang berdasarkan gerakan Uriel. Alfheim adalah benua yang indah, di sini, cahaya Uriel menyinari hampir seluruh sisi benua. Uriel adalah sinar yang datang dari sesuatu di balik langit dunia, itu bersinar ketika pagi datang, dan menghilang saat malam. Ketika fajar, cahaya Uriel berwarna kuning keemasan, perak di saat siang, dan juga menjadi kecokelatan ketika sore hari. Ketika malam, dunia menjadi gelap dan hanya disinari oleh Diabolus. Diabolus adalah cahaya diantara kegelapan, meski tidak seterang Uriel, tetapi cahaya Diabolus sangat indah, terutama ketika cahayanya terpantul diatas sungai Neil dan membuat daerah di sekitarnya berkilauan.
“ah, Yui, Huse, saatnya pulang. Nenek kalian pasti sudah membuatkan makan malam.”
“haaa?? Tapi kan kakek belum membacakan cerita itu lagi?”
“haha…, tenanglah Yui, kita masih bisa kemari besok. Tuan Gillian tidak akan menutup perpustakaan ini”
“hmm…, baiklah.”
Uriel bergerak lamban kea rah Barat Alfheim, pada batas yang menghalau hutan Grace yang membatasi Alfheim dengan Elven Garde dan langsung beraliran dengan sungai Neil. Sore yang kecokelatan, langit Alfheim terlihat begitu indah berhiaskan panggung oranye kecokelatan dan beberapa gumpal awan yang berubah warna mengikut warna langit. Bukit-bukit yang dibalut rerumputan di tanah lapang Alfheim terlihat bersinar di ujungnya.
Yui, Huse, dan kakek mereka tiba di rumah. Rumah mereka tidak terlalu besar, di sekelilingnya terdapat tanaman-tanaman hias yang bermekaran. Rumah itu seperti bukit yang bersinar, hanya saja dengan atap berwarna biru dan juga dinding kayu berwarna caramel. Yui dengan riang memasuki rumah tersebut dari pintu depan, menyusul dirinya Huse dan juga sang kakek. Di dalam sana sudah duduk menetap dengan tenang seorang wanita paruh baya dengan semangkuk sup di tangannya yang sudah dipenuhi keriput.
“Nenek makan sendiri lagi!”
Sang nenek tersenyum menatap Yui ketika anak itu melancarkan protes kepadanya.
“bukan seperti itu, nenek hanya melupakannya”
“tuh, kan, alasan yang sama lagi”
“sudah, sudah. Apa Yui tidak lapar marah-marah terus?”
“ayolah Yui…”
Sedikit mendengus kesal, Yui mengikuti langkah kakaknya menuju meja makan. Yui tahu bahwa neneknya selalu seperti itu, meskipun diperingati beberapa kali. Jadilah sang nenek membagikan sup pada tiap-tiap mangkuk yang sudah tersedia diatas meja sebelumnya. Meja itu cukup besar, 6 buah kursi mengelilinginya, tapi hanya ada 4 kursi yang ditempati. Yui tidak pernah melihat ayah dan ibunya, itulah kenapa dia begitu penasaran kenapa mereka harus menyediakan 2 buah kursi lain sementara tidak ada orang lain lagi yang ada di sana.
“kakek, apakah ibu dan ayah akan pulang?”
Kakeknya tersenyum. Yui menanyakan hal itu setiap kali dia menatap kedua kursi di meja makan. Sama seperti dia ingin mendengar buku yang disukainya dibacakan berulang kali, Yui juga sangat sering menanyakan hal tersebut karena dia begitu penasaran, sementara sang kakek hanya akan menjawab.
“Yui tenang saja, ibu dan ayah akan segera pulang”
“kapan?”
“entahlah…, siapa yang tahu? Tapi, jika Yui bersikap baik, maka ayah dan ibu Yui akan pulang cepat.
“haha!! Baiklah, kalau begitu aku akan bersikap baik mulai sekarang! Aku tidak akan kalah dari kakak!”
“Yui, kau anak yang manis!”
Huse menggigit sendoknya sendiri, tak tahan saat melihat adiknya tersenyum 5 jari dengan senang. Ini semacam bro-con.
Malam menghampiri Alfheim, langit di atas sana sungguh akan terlihat sangat gelap jika saja tidak ada Diabolus. Cahaya keperakan Diabolus dipantulkan oleh semua benda yang ada di Alfheim, membuat semuanya terlihat berkilauan. Alfheim adalah benua yang terletak di tengah Yggdrasil, dia berbatasan dengan Avantheim, Midgard, dan Elkia di Selatan, Elven Garde di Barat. Maleficheim di Timur, dan Jotunheim yang jauh di Utara. Padang rumput dan alang-alang di Alfheim dipenuhi oleh mana, sehingga setiap cahaya Diabolus selalu dipantulkan dan menyebabkan cahaya berbias seperti permata. Alfheim adalah negeri makmur yang disebari oleh beragam ras, namun dominannya dikuasai oleh ras Valkirie.
 “ne, kakak…, ceritakan lagi tentang ayah dan ibu”
Rerumputan bergoyang tertiup angina semilir, memberikan kesan seperti ombak cahaya ketika secara bersamaan rumput-rumput itu memancarkan cahaya Diabolus. 2 orang anak terbaring bersama di atas tanah yang beralaskan karpet hijau itu, Yui dan Huse. Setiap malam, sebelum tidur keduanya selalu datang ke tempat itu, padang rumput hijau yang cukup luas, terletak di belakang bukit rumah mereka.
“hh…, baiklah”
Yui selalu meminta hal yang sama ketika mereka sedang berdua di tempat itu, permintaan untuk menceritakan tentang ayah dan ibu mereka. Huse sebenarnya ingin menghentikan itu, tapi Yui selalu ingin mendengarnya, jadi Huse berpikir itu akan adil karena Yui tidak pernah bertemu ayah atau ibunya sebelumnya.
“ayah adalah orang yang keren dan hebat. Dia juga tampan seperti aku”
“kakak selalu menjadi narsis ketika membicarakan ayah!”
“sudah, jangan protes!”
“hehe, baiklah, baiklah…’
“ayah selalu bersikap baik dan mengutamakan kepentingan orang lain. Dia juga kuat. Dan ibu, adalah wanita paling cantik di dunia. Dia sangat mirip dengan Yui”
“tapi ibu pasti terlihat sangat manis kan?”
“tentu saja, sama seperti Yui”
Mereka kemudian tertawa bersama di atas rerumputan itu, membiarkan Diabolus melihat tawa mereka yang riang itu. Huse memeluk Yui, dia sangat menyayangi Yui dan selalu ingin melindungi Yui. Sosok adiknya itu menjadi satu-satunya harta paling berharga baginya. Karena itu, ia telah berusaha menjadi figura orang tua bagi Yui. Kapanpun dan dimanapun.
“aku akan selalu melindungimu, Yui. Aku berjanji, sampai kau bertemu lagi dengan ayah dan ibu”
“hmm…”
Yui menggeleng pelan di dalam dekapan kakaknya, lalu meregangkan sedikit pelukan itu, melihat kepada mata sang kakak.
“kita pasti akan bertemu ibu dan ayah. Itu pasti!”
“yah, kau benar”
Mereka meringkuk di atas karpet hijau itu, cukup lama hingga manik caramel Huse menangkap sesuatu yang melayang di udara, tepat di atasnya. Itu adalah sehelai bulu, melayang-layang turun di atas kepala Huse. Huse meregangkan pelukannya pada Yui, memperbaiki posisi mereka dan membiarkan bulu tersebut hinggap di tanggannya. Huse menatap helaian bulu itu dalam bingung. Itu seperti bulu seekor burung, tetapi terasa lebih halus dan wangi.
“Flugel…”
Huse mengalihkan pandangannya pada Yui ketika dia bergumam sesuatu.
“apa?”
“Flugel. Itu bulu dari sayap Flugel. Mereka mempunyai bau yang sangat wangi  dan khas dari bulu-bulu mereka. Itu karena kekuatan mereka yang besar, sehingga mana yang ada dalam tubuh mereka membuat bau tubuh mereka tercium sangat wangi.”
“heeh…, kau belajar banyak dari buku-buku di perpustakaan tuan Gillian ya”
“kakak hanya terlalu malas membacanya. Padahal semua buku di sana sangat menarik”
“baiklah, baiklah. Tapi…, kira-kira kenapa bulu Flugel dapat hinggap kemari? Jarak Alfheim dan Avantheim sangat jauh.”
-          Flugel adalah ras yang menempati Avantheim. Mereka diberkahi sayap seperli malaikat dan dapat terbang dengan bebas namun memiliki batas ketinggian di atas awan. Flugel memiliki energy mana (sihir) paling kuat dari ke-7 ras yang ada, hal itu membuat mereka mendapat keistimewaan lebih, seperti bau wangi di tubuh dan sayap mereka.
-          Avantheim adalah benua yang ditempati oleh Flugel. Jaraknya sangatlah jauh dengan Alfheim, butuh berminggu-minggu untuk bisa sampai dari Alfheim ke Avantheim menggunakan karavan. Meskipun para Elf dan makhluk lainnya bisa menggunakan teleportasi untuk berpindah tempat, namun akan diperlukan banyak sekali Mana untuk merapal satu mantra.
Huse Nampak berpikir keras menemukan alasan kenapa bulu Flugel itu dapat terdampar di bukit halaman mereka, tetapi sebelum kepalanya mampu menemukan jawaban itu, sesuatu terjadi. Tanah berguncang di sekitar mereka, sesuatu jatuh dengan keras ke tanah. Dari kecepatannya, mungkin tanah itu akan tercipta kawah. Debu bertebaran, tanah hancur. Yui dan Huse segera beranjak dari tempat mereka, lalu dari kumpulan debu itu kembali lagi melesat sesuatu. tubuhnya terkepul debu ketika ia melesat terbang, namun pada ketinggian berikutnya, debu-debu itu menghilang dan menampakkan wujud yang mungkin dapat menjawab pertanyaan Huse.
Seorang Flugel dengan baju perang ras dan pedang tajam di tangannya terbang ke langit, kemudian ia menukik dan menghantam sesuatu. Flugel itu menghantamkan pedangnya pada sesuatu yang besar dan terbang. Huse dan Yui hanya memperhatikan pertarungan mereka dalam diam, tak mampu berkata apa-apa.
Flugel itu mengayunkan pedangnya pada seekor burung raksasa di langit, itu adalah seekor Phoenix, binatang buas yang sangat sulit di kendalikan. Dari atas Phoenix tersebut terlihat seorang yang menungganginya, dia pastilah seorang Valkirie. Pedang Flugel itu berkilatan di langit, memantulkan cahaya Diabolus yang berwarna keperangan di langit malam. Sayap-sayap phoenix itu juga tidaklah kalah menyilaukannya. Seperti Uriel di malam hari, membara seperti api-api yang berkobar. Untuk beberapa fraksi detik, langit malam itu menjadi sangat terang oleh mana.
“kakak, ada apa ini? apa yang dilakukan Flugel dan Valkirie itu?”
“tenanglah Yui, untuk sekarang, kita kembali dulu ke rumah dan memperingati kakek dan nenek. Kita harus menjauh dari sini, kekuatan Flugel dan Valkirie bisa membelah gunung menjadi 2.”
Huse menuntun Yui mengikutinya menuju rumah, mereka berlari sekuat tenaga agar dapat menghindari pertarungan itu. Ketika rumah mereka sudah terlihat tidak jauh, senyum merekah di bibir Yui dan Huse. Tetapi tidak lama. Seberkas cahaya tiba-tiba melesat cepat dari belakang mereka, cahaya putih dan menyilaukan itu melewati rumah mereka, kemudian dari rumah itu terciptalah ledakan dahsyat yang menyebabkan gelombang udara dan menghempaskan Yui dan Huse beberapa meter. Huse menatap tidak percaya apa yang dilihatnya. Cahaya itu menghancurkan rumah mereka dengan kakek dan neneknya berada di dalam sana.
“kakak…, apa…ini…??”
“Yui…”
“apa yang terjadi?!!”
Mata Yui meneteskan air bening, dia menangis. Huse masih berusaha menemukan tanda-tanda kehidupan di sana, namun nihil. Kobaran api di sana terlalu besar, mustahil ada orang yang bisa selamat dari itu. Berkasan cahaya tadi adalah mana, karakteristik Flugel. Huse memeluk Yui, ia kemudian kembali menatap ke langit, pertarungan itu berhenti, dan langit kembali menjadi gelap dan tenang.
“ada apa ini? kenapa Flugel ada di Alfheim? Kenapa kakek dan nenek….”
“tenanglah…, Yui. Kita akan mencoba mencari mereka.”
Huse berusaha menenangkan Yui, fakta bahwa mereka telah menjadi yatim piyatu dan sebatang kara membuatnya sesak. Ia ingin tahu alasan kenapa ada Flugel dan Valkirie yang bertarung di langit Alfheim? Di saat itu juga, muncul seseorang dari belakang mereka. Berdiri dengan angkuh dan tatapan yang menunjukkan belas kasihan saat menatap kedua bocah itu.
“Huse, Yui…”
Itu suara yang mereka kenali di manapun. Yui menghentikan tangisnya dan menengok ke belakang, sementara Huse masih mengamati kobaran api itu dalam diam.
“tuan Gillian…”
maaf karena aku terlambat. Aku berusaha mencegah mereka bertarung, tapi kurasa waktu yang kupunya tidak cukup.
“nah, tuan Gillian…, apa yang dilakukan Flugel dan Valkirie itu di atas sana?”
Huse menatap Gillian dengan mata berkaca-kaca. Beberapa meter dari tempatnya terduduk, rumahnya sedang terbakar hebat. Kedua orang yang sudah bersusah payah membesarkannya kini sudah tiada. Seperti ayah dan ibunya. Huse tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada Yui.
“apa yang kau pikirkan tentang itu, Huse?”
“bukankah Hukum territory melarang serangan pada ras lain? Dan penggunaan zirah perang sudah tidak diizinkan lagi. Tapi kenapa…”
“hmm…, maafkan aku karena tidak bisa menyelamatkan Rokki dan Imelda, sebagai seorang teman, aku akan mengambil tanggung jawab atas kalian. Dan meyakinkan mereka untuk mati dalam damai…”
Tak ada jawaban, Huse maupun Yui kini menatap sendu kobaran api yang membakar habis rumah kecil mereka, bersama dengan kakek dan nenek mereka di dalamnya. Huse mengetahui ada yang salah di sini. Dia ingin mengetahui apa yang terjadi? Kenapa Flugel dan Valkirie bertarung? Kenapa hidup mereka hancur?
“tuan Gillian…, aku ingin menjadi kuat”
“hmm?”
“aku ingin menjadi kuat untuk melindungi Yui, aku ingin menjadi lebih kuat untuk mengetahui rahasia dunia ini.
“jadilah kuat…, ini hanya sebuah awal. Ada sesuatu yang lebih buruk menunggu di masa depan. Aku tidak tahu apa itu, tetapi seperti sebuah kehancuran.”
“demi melindungi Yui, apapun akan kulakukan!”
Malam itu, Diabolus ikut berduka bersama Huse dan Yui. Huse bertekad untuk mencari tahu apa yang terjadi, dan dengan begitu, dia akana terus melindungi Yui. Sejak saat itu, 2 kakak beradik itu tinggal bersama Gillian, dan kehidupan mereka yang lain dimulai lagi dari awal.


 ***