Minggu, 13 September 2015

WAR OF GODS
(1st Novel Project)


Genre: Fantasy, Friendly, Actions, Adventure

Disclaimer by Me


BAB I
PROLOGUE

Dahulu kala, sebelum dunia diciptakan, hanya kehampaan yang memenuhi ruang. Semua berputar dan berpusat pada ruangan yang tidak berpenghuni. Ruang itu adalah milik Tuhan, dialah yang mengatur segala yang berada di ruangan tersebut, meski kosong. Suatu hari, Tuhan menciptakan 3 orang malaikat, kemudian kepada masing-masing malaikat tersebut diberikan-Nya lah nama, Mellekith, Avrora, dan Azrael. Tuhan memerintahkan mereka setelah diberikan kepada mereka kuasa dari-Nya untuk menciptakan dunia di dalam sebuah pohon. Maka bertanyalah Mellekith.
“Wahai Tuhanku, pencipta yang membawaku kepada kehampaan ini, seperti apakah dunia yang engkau kehendaki?”
Tuhan mengalihkan pertanyaan Mellekith pada Azrael dan Avrora, bertanya pada keduanya apakah ada diantaranya yang mengetahui maksud Tuhan mereka. Tetapi Arael dan Avrora sama sekali tidak memahaminya. Maka Tuhan mengangkat tangan kanannya lalu seberkas cahaya keluar dari sana, dan saat itulah hari pertama cahaya diciptakan. Ketiga malaikat Tuhan tidak mengetahui benda apa yang berada di tangan tuhannya, lalu cahaya itu berpendar dan terbagi-bagi menjadi 7 buah bola raksasa yang sama terangnya. Dan berkatalah Tuhan.
“ciptakanlah dunia yang aku kehendaki, tanamlah benih Yggdrasil di kehampaan ini, lalu dia akan tumbuh menjadi akar, batang, dan daun dunia-dunia. Hubungkan dunia-dunia itu dari sebuah aliran sungai yang menghidupinya, dan kemudian akan aku berikan nyawa yang berbeda-beda kepada setiap dunia.”
Mellekith, Avrora, dan Azrael menatap Tuhannya, kemudian bertanyalah lagi Avrora.
“seberapa banyakkah dunia-dunia yang engkau kehendaki wahai tuhanku?”
“buatlah dunia sebanyak cahaya yang aku ciptakan.”
Maka setelah perintah Tuhan diberikan pada ketiga malaikat itu, mereka pergi bersama-sama ke pusat kekosongan, di tangan Mellekith telah digenggam benih Yggdrasil. Avrora meletakkan benih itu di tengah kehampaan, kemudian Azrael memohon doa kepada Tuhan untuk menumbuhkan benih Yggdrasil. Maka setelah itu, benih tersebut bergerak-gerak, kemudian cahaya yang sangat terang keluar dari benih itu dan dalam pengaruh waktu di kekosongan itu, benih tersebut segera tumbuh menjadi pohon raksasa yang sangat besar dan mengisi hampir seluruh kehampaan.
Setelah benih Yggdrasil berubah menjadi pohon Yggdrasil, maka berpencarlah Mellekith, Azrael, dan Avrora pada setiap bagian pohon itu. Mellekith terbang dan berdiri di akar-akar Yggdrasil yang besar dan menjuntai, di sana, ia menciptakan Jotunheim, dunia yang dipenuhi oleh es. Dunia yang diciptakan oleh Mellekith adalah tempat untuk membuang nyawa-nyawa yang hendak diciptakan tuhan jika mereka menentang Tuhan. Azrael hinggap di batang raksasa Yggdrasil, di sana, dia menciptakan 3 dunia, yaitu Alfheim, Elven Garde, dan Maleficfheim. Ketiga dunia itu dipenuhi oleh hiasan indah dan pernak-pernik yang berkilauan dari emas, ruby, berlian, dan sumber daya yang melimpah. Avrora mengepakkan sayapnya dan terbang ke puncak Yggdrasil, di puncak itu, Avrora menciptakan 3 dunia, yaitu Avantheim, Midgard, dan Elkia.
Kemudian, setelah ke-7 dunia itu diciptakan atas perintah Tuhan, maka tuhan dari singgasananya mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya, ia bermaksud menciptakan nyawa-nyawa dari ketiadaan untuk mengisi dunia yang sedang kosong itu. Dari tangan Tuhan, diciptakanlah 7 jenis nyawa yang berbeda dengan kemampuan yang telah dikehendaki oleh tuhan dan akan menghuni masing-masing dunia yang telah di ciptakan sebelumnya. Namun sebelum itu, tuhan telah menciptakan bentuk energy yang special dan dapat digunakan dan dimanipulasi oleh nyawa-nyawa yang hendak diciptakannya nanti. Energy itu kemudian disebut dengan Mana. Lebih lanjut, Mana adalah sebuah bentuk energy dari alam yang menyatu dengan setiap roh makhluk hidup. Mana berada di mana-mana, dan ke-7 ras yang diciptakan mampu memanipulasi mana yang tersedia di sekliling mereka untuk kepentingan mereka sendiri.
Pertama-tama, Tuhan menciptakan nyawa dari daun-daun Yggdrasil, kemudian dibentuklah Elf. Ras pertama yang diciptakan adalah Elf yang diberkati oleh tuhan untuk menghuni Elven Garde. Elf memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu dari Mana dan digunakan untuk membuat pujian kepada Tuhan. Setelah itu, Tuhan mengambil tanah dari Jotunheim yang keras dan berbatu. Dari tanah itu Tuhan menciptakan ras Beast. Beast diberkahi kekuatan fisik yang luarbiasa oleh Tuhan, dan itulah bentuk Mana yang mereka miliki. Beast diberikan oleh tuhan dunia bernama Maleficfheim. Setelah itu, Tuhan mengambil kulit dari batang pohon Yggdrasil, ia kembali membuat nyawa dari kulit batang pohon tersebut dan menciptakan ras Wizard. Ras Wizard memiliki kekuatan hebat jika berurusan dengan Mana, dan tuhan memberikan mereka tempat di Elkia. Lagi, tuhan kini mengambil angin yang berhembus diantara dedaunan Yggdrasil, kemudian dari angin tersebut tuhan menciptakan para Humanoid, ras yang merupakan bentuk teratas dengan kekuatan yang kuat untuk memanipulasi berbagai macam bentuk. Ras humanoid diberikan tanah bernama Midgard. Selain itu, Tuhan juga mengambil awan-awan yang bergantungan di langit Midgard, kemudian dari awan-awan tersebut Tuhan membentuk para ras malaikat yang diberkahi sayap yang berkilauan, tetapi tidak dapat menerbangi ruang diluar jangkauan langit mereka, dan makhluk itu diberikan-nyalah Avantheim. Ketika ras ke-5 selesai di buat oleh Tuhan, Mellekith, Avrora, dan Azrael tiba di hadapan-Nya, kemudian bertanyalah Azrael.
“wahai Tuhanku, mengapa engkau menciptakan nyawa-nyawa ini?”
“aku menciptakan mereka karena alasan yang tidak kau ketahui.”
Ketiga malikat itu terdiam di hadapan tuhan mereka. Kemudian, tanpa sengaja Mellekith mengintip masa depan dari 7 dunia yang mereka ciptakan. Raut ketakutan menghiasi wajah jelita Mellekith, iapun menatap lagi tuhannya dan bertanya.
“wahai Tuhanku, bukankah menciptakan nyawa-nyawa ini adalah sumber dari bencana? Mereka akan berperang demi kekuasaan dan kekuatan, maka hendaklah enkau wahai tuhanku menimang lagi untuk menciptakan nyawa-nyawa itu”
Maka murkalah tuhan kepada Mellekith, seketika rantai-rantai neraka mencengkeram tubuh mellekith sampai ke ujung rambutnya, lalu berkatalah Tuhan.
“wahai Mellekith, siapakah yang menciptakanmu? Dan siapakah yang telah engkau ingkari rencana-Nya?”
“mohon berikanlah hambamu pengampunan wahai tuhanku, berkatilah aku dijalan yang engkau rencanakan”
Rantai-rantai neraka itu melepaskan mellekith, dan tuhan mengampuninya. Ketiga malaikat itu kemudian duduk bersipuh di hadapan sang tuhan dan melihat-Nya menciptakan makhluk-makhluk berikutnya.
Setelah makhluk ke-5 diciptakan, tuhan mengambil air dari sungai Neil, sungai yang menghubungkan ke-7 dunia dalam Yggdrasil lalu oleh-Nya ia menciptakan Valkirie, makhluk yang mampu memanggil kekuatan lain untuk membantunya. Valkirie diberikan dunia bernama Alfheim. Dan nyawa terakhir yang diciptakan oleh Tuhan, adalah Manusia. Manusia tidak diberkati kekuatan sihir oleh Tuhan, tetapi mereka diberikan keistimewaan untuk memilih dan merajut pengalaman untuk terus belajar dan memerintah daerah kekuasaan mereka, sehingga ke-6 ras lainnya tunduk terhadap peraturan yang mereka buat. Manusia tidak diberikan dunia sendiri, tetapi mereka berada di ke-6 dunia dan tersebar. Tuhan merasakan bahwa keberadaan ke-7 ras tersebut tidaklah seimbang, maka ia menciptakan makhluk lain selain mereka, yaitu berbagai makhluk yang berada di sekeliling ras-ras itu, hewan, tumbuhan, dan sebagainya.
Setelah Tuhan selesai menciptakanke-7 nyawa tersebut, maka mereka dilemparkan ke dunia-dunia yang telah diciptakan sebelumnya. Sejak saat itu, Manusia membuat peraturan yang dipatuhi oleh seluruh Ras yang ada di ke-7 dunia itu, dan semuanya menjadi damai. Tetapi damai itu tidaklah bertahan sesuai perkiraan Mellekith, Azrael, dan Avrora.
Salah satu ras memulai perang, menganggap diri mereka adalah nyawa yang paling mulia diantara yang lain dan merendahkan nyawa yang seharusnya menjadi sekutu mereka. Maka mereka memakai karunia Tuhan (mana) untuk melakukan hal yang menuai kehancuran dan bencana. Ras itu menghancurkan segalanya, saling membunuh, dan kemudian berperang. Ketujuh dunia terluka dan krisis akibat peperangan. Setelah itu, nyawa-nyawa yang lain pula mulai saling memusuhi satu sama lain diantara mereka, dan perang yang berkecamuk semakin menyiksa dunia-dunia, bahkan Yggdrasil memohon kepada tuhan untuk menghentikan perang itu.
Mellekith menangis tersedu-sedu di hadapan Tuhan, ia melihat perang yang mengerikan itu dari lubang pohon Yggdrasil dan mengadukannya pada tuhan, lalu Tuhan berkata.
“Mellekith, Avrora, Azrael, turunlah kamu semua ke atas dunia yang telah Aku kehendaki, kemudian carilah diantara mereka orang-orang bijak yang akan menentramkan perang. Berkati kepada mereka kekuatan yang sejajar dengan kehancuran perang itu”
Ketiga malaikat itu mengepakkan sayap mereka kemudian turun ke dunia-dunia yang tengah berperang itu. Ketika mereka melewati Alfheim, air mata Mellekith berubah menjadi darah. Di bawah sana, tidak ada yang bertahan layaknya penciptaan mereka pada mulanya, tanah yang dulunya berkilauan kini gosong oleh api dan kesengsaraan, bebungaan yang berwarna-warni tidak lagi menyisakan satu kuncup pun.
Akhirnya, mereka sampai di ujung perang. Ke-7 ras yang tengah berperang itu menyadari kehadiran Mellekith, Azrael, dan Avrora. Ras pertama yang mengacungkan senjata kepada mereka, adalah Manusia, dan merekalah ras yang memulai perang pada awalnya. Jadi Mellekith menyampaikan murka kepada mereka. Setelah itu, Mellekith, Azrael, dan Avrora menunjuk perwakila dari ketujuh ras, dan perang itupun dihentikan. Setelah perang itu berakhir, maka mereka yang telah kecanduan oleh perang itu dibuang ke Jotunheim, dan di sanalah mereka menemukan kesengsaraan akibat perang yang mereka akibatkan.

20 Agustus tahun 774 (waktu manusia), Alfheim.
Tangan-tangan keriput seorang kakek menutup buku tebal yang baru saja dibacanya, kacamatanya sedikit ia benarkan. Buku setebal kira-kira 300 halaman itu dia letakkan di atas meja. Sekelilingnya dipenuhi oleh rak-rak lebar nan tinggi yang diisi oleh buku di setiap ruasnya. Sebuah meja persegi panjang dengan ukuran sepanjang 2 meter berdiri tegak sebagai tempat baginya meletakkan buku-buku yang telah dibacanya, kursi-kursi kayu dengan ukiran indah mengelilingi meja tersebut sebanyak 4 buah. Tak jauh dari buku tebal yang baru saja diletakkannya, bertumpuk pula bku-buku lain yang tebalnya serupa. Suara kursi yang digeser terdengar, berikutnya adalah suara tawa kecil seorang anak. Dari kolong meja di depan kursi di hadapan kakek tua itu, muncul seorang anak lelaki. Kakek tua itu agak tersentak, namun mengulum senyum kemudian. Kacamatanya ia perbaiki lagi.
“kemarilah, Yui. Apa kau senang mendengar cerita itu?”
Anak kecil itu berlari kecil mengelilingi meja panjang itu lalu berdiri di dekat sang kakek. Anak itu mengangguk sambil tersenyum. Rambutnya acak-acakan, wajahnya sangat polos namun terlihat begitu manis dan bulat. Matanya berhiaskan iris caramel yang senada dengan warna rambutnya. Sang kakek mengelus pelan surai anak itu sambil tersenyum.
“kakek, bisakah kakek membacakannya lagi?”
“haa? Bukankah kau sudah mendengarnya sebanyak 4 kali hari ini? apakah tidak ada buku lain yang Yui inginkan ketika di perpustakaan selain buku itu?”
Anak berumur 8 tahun itu mengerucutkan bibirnya tanda sebal, itu kemudian mengundang tawa sang kakek yang malah menambah ekspresi masam anak bernama Yui itu.
“baiklah, baiklah. Tapi sebelum itu, maukah kau mencari Huse? Mungkin dia sedang membaca di suatu tempat dan ketiduran”
“ah, kakak ya? Baiklah, akan kucarikan. Tapi setelah itu, kakek harus membacakan cerita itu lagi ya”
“haha…, baiklah, kau dan Huse akan mendengarnya bersama-sama”
“tentu”
Yui meninggalkan kakeknya. Ia berjalan cepat mengelilingi setiap rak buku yang berdiri tegap dalam ruangan tersebut untuk menemukan Huse, saudaranya. Yui hafal semua sudut dan letak setiap rak di dalam perpustakaan ini, itu karena kakeknya sudah mengajaknya ke sini sejak ia berumur 5 tahun, selain itu Yui juga menghafal banyak judul buku melegenda yang tersusun di rak-rak itu, termasuk buku yang baru saja habis dibacakan oleh kakeknya yang berjudul “Hari Penciptaan Dunia”, buku istimewa yang sangat di senanginya .
Setelah berjalan sekitar lebih 5 menit, Yui akhirnya menemukan sosok yang dicarinya. Seorang anak lelaki sedang tertidur pulas diatas sejumlah tumpukan buku tebal. Yui tertawa kecil, itulah Huse. Huse adalah kakak Yui yang berumur 2 tahun lebih tua darinya. Huse selalu mencari buku-buku yang menurutnya menarik, lalu ketika dia sudah sangat tunduk untuk membacanya dan terlarut, dia akan tertidur bersama buku-buku itu di dekatnya. Yui mendekati kakaknya itu, sebuah buku tebal di dekat Huse diambil oleh Yui, kemudian dengan sepasang tangan kecil nakal itu, buku tebal tersebut dibuka kemudian ditutup dengan sangat kasar sehingga menyebabkan bunyi yang cukup keras dan Huse terbangun dengan sangat tidak elit. Yui tertawa melihat kakaknya sekarang. Rambutnya berantakan, setetes iler menggantung di sudut bibirnya, dan pandangannya sayu seperti seorang pekerja yang begadang.
“haha…, kakak, kau terlihat jelek.”
Huse masih belum sadar sepenuhnya dari tidur nyenyaknya bahkan setelah mendengar suara buku tersebut. Beberapa fraksi detik kemudian, semua nyawanya terkumpul dan kesadarannya kembali. Wajah Huse memerah ketika menyadari Yui tengah menertawainya. Selalu seperti ini.
“Yui, sudah kukatakan untuk tidak membangunkanku”
“haha…, tapi kakek memanggil kita”
“heeh?”
“ya, karena itu, kita harus kembali ke ruang baca sekarang”
“um, baiklah. Kau duluan saja”
“hmm…, tapi kakak harus berjanji untuk tidak tertidur lagi”
“baiklah, aku berjanji”
Yui melangkah meninggalkan sang kakak dan menuju tempat di mana sang kakek menunggunya untuk cerita yang ingin di dengarnya, sementara Huse merapikan buku-buku yang tadi dibacanya, sebelum sang penjaga perpustakaan kembali dan memarahinya. Yui bersenandung ria dalam langkahnya, senyum bahagia terpatri di bibirnya, pikirannya melayang pada kisah yang selalu di dengarnya. Buku yang dikaguminya itu pertama kali dibacakan oleh kakeknya beberapa bulan lalu, ketika musim semi di Alfheim. Mereka membaca buku itu di bawah pohon Claire yang sedang memekarkan bunganya di batang pohonnya, bersama beberapa ekor Forrest Pixy dan binatang-binatang kecil. Yui tertarik mengenai peciptaan dunia dan juga perang yang berkecamuk itu. Tetapi hal yang membuatnya sangat menyukai buku tersebut, adalah Yggdrasil. Dalam buku itu, Yggdrasil dikatakan menopang 7 dunia, tetapi yang ada di kenyataan adalah 7 benua dengan nama yang sama dengan di kisah tersebut. Jotunheim adalah kota penjara terbesar bagi orang-orang penyulut perang ribuan tahun lalu, tapi, konon katanya orang-orang yang dipenjara itu belum mati hingga sekarang. Hal itu dikarenakan, waktu di Jotunheim tidak berjalan, jadi orang-orang itu menderita untuk selamanya tanpa ada jalan keluar.
Sebuah beban tersampir dipunggungnya, membuat Yui kehilangan keseimbangan akibat beban tersebut dan terjatuh. Matanya melirik ke belakang, Huse mengalungkan lengannya di leher Yui dengan senyum yang manis. Beban itu, Huse, tidak segera menyingkir dari tubuh Yui yang notabane lebih kecil darinya bahkan setelah Yui memintanya untuk berdiri.
“kakak…, kau berat!”
“Yui, kau harus bisa mengangkat tubuhku jika kau ingin kuat!”
“siapa yang bilang begitu?”
“kakek mengatakannya”
“heeh…? Kakek tidak pernah mengatakan itu!?
“tapi kau tetap harus menggendongku untuk membawaku sampai di tempat kakek”
“heeh…?”
Seseorang membersihkan tenggorokannya, perhatian Yui dan Huse teralihkan pada orang itu. Di sebelah mereka, berdiri pada sisi rak yang tinggi, penjaga perpustakaan, Gillian, salah satu Grand Elf di Alfheim, dia juga adalah pemilik perpustakaan ini. Gillian adalah orang yang tidak suka keributan, menegur bukanlah keinginannya karena dia sangat menghormati ketenangan. Tetapi hal itu tidak berlaku untuk Huse dan Yui. Gillian beberapa kali ingin memberikan hukuman pada mereka karena menjadi terlalu brisik di perpustakaan, tetapi beberapa kali pula ia urungkan ketika mengingat sosok kakek Yui adalah sahabatnya.
“Yui, Huse…, bisakah kalian bermain di tempat lain?”
“e-eeh…, ba-baiklah, tuan Gillian, maafkan kami”
Cepat-cepat huse menyingkir dari tubuh adiknya, berdiri tanpa membersihkan pakaiannya yang mungkin kotor karena debu dan segera berlari ke tempat kakeknya berada, begitu pula Yui. Mendengar ceramah dari seorang Grand Elf dapat menyita waktu dan mana, karena itu, menyingkir adalah hal yang terbaik untuk dilakukan.
Yui dan Huse berdiri sambil bernapas dengan terengah-engah ketika sampai di hadapan sang kakek. Kakek mereka hanya menatap kedua kakak beradik itu dalam diam. Yui dan Huse segera menarik masing-masing kursi ketika merasakan napas mereka mulai teratur dan detak jantung yang sudah mulai melambat. Keduanya duduk berdampingan menghadap sang kakek.
“apa kalian bertemu tuan Gillian lagi?”
“um. Dan setiap hari dia terlihat lebih menakutkan”
“AKU MENDENGAR ITU, ANAK MUDA!!!”
Suara Gillian yang muncul dari rak-rak buku itu mengejutkan kedua kakak beradik itu, tubuh mereka merinding karena terkejut. Kakek mereka tertawa kecil.
“haha…, kalian tangan terus menyusahkan tuan Gillian. Apa kalian mau diubah menjadi sebuah sampul atau pembatas buku?”
“tidak kakek, aku tidak mau!!”
“aku juga…”
“yasudah, yang penting kalian berjanji untuk tidak mengulanginya lagi”
“um. Kalau begitu, sekarang kakek harus menceritakan cerita itu lagi ya”
“baiklah, jika Yui menginginkan itu”
Kakek itu meraih buku tebal yang sudah selesai dibacanya beberapa menit yang lalu. Tangan-tangan keriputnya kembali membuka buku tersebut di halaman sekian di mana terdapat kisah yang juga baru saja selesai di bacanya. Huse memperhatikan lagi sampul buku tersebut, tangannya ia letakkan di sisi meja, menunjukkan jemarinya yang lentik, badannya sedikit ia condongkan.
“kakek, apa kita akan mendengar cerita itu lagi?”
“heeh? Memangnya kenapa?”
“duh, Yui, apa kau tidak bosan mendengar kisah itu?”
“tidak sama sekali. Bukankah itu bagus?”
“hh…, baiklah. Ah, kakek, adakah yang memimpin ke-7 ras saat ini?”
“Huse, kau mengganggu kakek”
“diamlah Yui.”
Kakeknya mengambil pose berpikir menanggapi pertanyaan Huse. Matanya sedikit ia pejamkan, lalu beberapa fraksi detik kemudian ia memasang wajah yang serius.
“tentu saja ada.”
“whoa…, siapa itu?”
Yui mengerucutkan bibirnya tanda tidak suka diacuhkan. Sebaliknya, Huse malah lebih bersemangat.
“mereka adalah perwakilan yang ditunjuk dari ke-7 Ras. Sejak berakhirnya perang, mereka bertujuh membuat kesepakatan perdamaian atas nama Tuhan dan memutuskan tali perang diantaranya.”
“apakah mereka punya kekuatan yang besar?”
“tentu saja. Mereka dikenal karena keagungan dan kebijaksanaan mereka. Orang-orang memanggil mereka The Great Guardians. Kekuasaan mereka meliputi seluruh negeri, dan dengan kekuasaan itu, mereka membuat hukum dan peraturan yang mengatur batas-batas daerah dan hak juga kewajiban setiap ras. Hukum itu kemudian dikenal dengan Hukum Teritori.”
“aku ingin menemui mereka. Apakah mereka tinggal di sini?”
“haha…, tidak, Huse, mereka tinggal di menara surga Avantheim, tempat yang sangat sacral untuk dikunjungi oleh rakyat biasa seperti kita”
“sayang sekali…”
Sang kakek melirik jam yang tergantung di dinding pada ujung ruangan tersebut, jam yang menunjukkan waktu sekarang berdasarkan gerakan Uriel. Alfheim adalah benua yang indah, di sini, cahaya Uriel menyinari hampir seluruh sisi benua. Uriel adalah sinar yang datang dari sesuatu di balik langit dunia, itu bersinar ketika pagi datang, dan menghilang saat malam. Ketika fajar, cahaya Uriel berwarna kuning keemasan, perak di saat siang, dan juga menjadi kecokelatan ketika sore hari. Ketika malam, dunia menjadi gelap dan hanya disinari oleh Diabolus. Diabolus adalah cahaya diantara kegelapan, meski tidak seterang Uriel, tetapi cahaya Diabolus sangat indah, terutama ketika cahayanya terpantul diatas sungai Neil dan membuat daerah di sekitarnya berkilauan.
“ah, Yui, Huse, saatnya pulang. Nenek kalian pasti sudah membuatkan makan malam.”
“haaa?? Tapi kan kakek belum membacakan cerita itu lagi?”
“haha…, tenanglah Yui, kita masih bisa kemari besok. Tuan Gillian tidak akan menutup perpustakaan ini”
“hmm…, baiklah.”
Uriel bergerak lamban kea rah Barat Alfheim, pada batas yang menghalau hutan Grace yang membatasi Alfheim dengan Elven Garde dan langsung beraliran dengan sungai Neil. Sore yang kecokelatan, langit Alfheim terlihat begitu indah berhiaskan panggung oranye kecokelatan dan beberapa gumpal awan yang berubah warna mengikut warna langit. Bukit-bukit yang dibalut rerumputan di tanah lapang Alfheim terlihat bersinar di ujungnya.
Yui, Huse, dan kakek mereka tiba di rumah. Rumah mereka tidak terlalu besar, di sekelilingnya terdapat tanaman-tanaman hias yang bermekaran. Rumah itu seperti bukit yang bersinar, hanya saja dengan atap berwarna biru dan juga dinding kayu berwarna caramel. Yui dengan riang memasuki rumah tersebut dari pintu depan, menyusul dirinya Huse dan juga sang kakek. Di dalam sana sudah duduk menetap dengan tenang seorang wanita paruh baya dengan semangkuk sup di tangannya yang sudah dipenuhi keriput.
“Nenek makan sendiri lagi!”
Sang nenek tersenyum menatap Yui ketika anak itu melancarkan protes kepadanya.
“bukan seperti itu, nenek hanya melupakannya”
“tuh, kan, alasan yang sama lagi”
“sudah, sudah. Apa Yui tidak lapar marah-marah terus?”
“ayolah Yui…”
Sedikit mendengus kesal, Yui mengikuti langkah kakaknya menuju meja makan. Yui tahu bahwa neneknya selalu seperti itu, meskipun diperingati beberapa kali. Jadilah sang nenek membagikan sup pada tiap-tiap mangkuk yang sudah tersedia diatas meja sebelumnya. Meja itu cukup besar, 6 buah kursi mengelilinginya, tapi hanya ada 4 kursi yang ditempati. Yui tidak pernah melihat ayah dan ibunya, itulah kenapa dia begitu penasaran kenapa mereka harus menyediakan 2 buah kursi lain sementara tidak ada orang lain lagi yang ada di sana.
“kakek, apakah ibu dan ayah akan pulang?”
Kakeknya tersenyum. Yui menanyakan hal itu setiap kali dia menatap kedua kursi di meja makan. Sama seperti dia ingin mendengar buku yang disukainya dibacakan berulang kali, Yui juga sangat sering menanyakan hal tersebut karena dia begitu penasaran, sementara sang kakek hanya akan menjawab.
“Yui tenang saja, ibu dan ayah akan segera pulang”
“kapan?”
“entahlah…, siapa yang tahu? Tapi, jika Yui bersikap baik, maka ayah dan ibu Yui akan pulang cepat.
“haha!! Baiklah, kalau begitu aku akan bersikap baik mulai sekarang! Aku tidak akan kalah dari kakak!”
“Yui, kau anak yang manis!”
Huse menggigit sendoknya sendiri, tak tahan saat melihat adiknya tersenyum 5 jari dengan senang. Ini semacam bro-con.
Malam menghampiri Alfheim, langit di atas sana sungguh akan terlihat sangat gelap jika saja tidak ada Diabolus. Cahaya keperakan Diabolus dipantulkan oleh semua benda yang ada di Alfheim, membuat semuanya terlihat berkilauan. Alfheim adalah benua yang terletak di tengah Yggdrasil, dia berbatasan dengan Avantheim, Midgard, dan Elkia di Selatan, Elven Garde di Barat. Maleficheim di Timur, dan Jotunheim yang jauh di Utara. Padang rumput dan alang-alang di Alfheim dipenuhi oleh mana, sehingga setiap cahaya Diabolus selalu dipantulkan dan menyebabkan cahaya berbias seperti permata. Alfheim adalah negeri makmur yang disebari oleh beragam ras, namun dominannya dikuasai oleh ras Valkirie.
 “ne, kakak…, ceritakan lagi tentang ayah dan ibu”
Rerumputan bergoyang tertiup angina semilir, memberikan kesan seperti ombak cahaya ketika secara bersamaan rumput-rumput itu memancarkan cahaya Diabolus. 2 orang anak terbaring bersama di atas tanah yang beralaskan karpet hijau itu, Yui dan Huse. Setiap malam, sebelum tidur keduanya selalu datang ke tempat itu, padang rumput hijau yang cukup luas, terletak di belakang bukit rumah mereka.
“hh…, baiklah”
Yui selalu meminta hal yang sama ketika mereka sedang berdua di tempat itu, permintaan untuk menceritakan tentang ayah dan ibu mereka. Huse sebenarnya ingin menghentikan itu, tapi Yui selalu ingin mendengarnya, jadi Huse berpikir itu akan adil karena Yui tidak pernah bertemu ayah atau ibunya sebelumnya.
“ayah adalah orang yang keren dan hebat. Dia juga tampan seperti aku”
“kakak selalu menjadi narsis ketika membicarakan ayah!”
“sudah, jangan protes!”
“hehe, baiklah, baiklah…’
“ayah selalu bersikap baik dan mengutamakan kepentingan orang lain. Dia juga kuat. Dan ibu, adalah wanita paling cantik di dunia. Dia sangat mirip dengan Yui”
“tapi ibu pasti terlihat sangat manis kan?”
“tentu saja, sama seperti Yui”
Mereka kemudian tertawa bersama di atas rerumputan itu, membiarkan Diabolus melihat tawa mereka yang riang itu. Huse memeluk Yui, dia sangat menyayangi Yui dan selalu ingin melindungi Yui. Sosok adiknya itu menjadi satu-satunya harta paling berharga baginya. Karena itu, ia telah berusaha menjadi figura orang tua bagi Yui. Kapanpun dan dimanapun.
“aku akan selalu melindungimu, Yui. Aku berjanji, sampai kau bertemu lagi dengan ayah dan ibu”
“hmm…”
Yui menggeleng pelan di dalam dekapan kakaknya, lalu meregangkan sedikit pelukan itu, melihat kepada mata sang kakak.
“kita pasti akan bertemu ibu dan ayah. Itu pasti!”
“yah, kau benar”
Mereka meringkuk di atas karpet hijau itu, cukup lama hingga manik caramel Huse menangkap sesuatu yang melayang di udara, tepat di atasnya. Itu adalah sehelai bulu, melayang-layang turun di atas kepala Huse. Huse meregangkan pelukannya pada Yui, memperbaiki posisi mereka dan membiarkan bulu tersebut hinggap di tanggannya. Huse menatap helaian bulu itu dalam bingung. Itu seperti bulu seekor burung, tetapi terasa lebih halus dan wangi.
“Flugel…”
Huse mengalihkan pandangannya pada Yui ketika dia bergumam sesuatu.
“apa?”
“Flugel. Itu bulu dari sayap Flugel. Mereka mempunyai bau yang sangat wangi  dan khas dari bulu-bulu mereka. Itu karena kekuatan mereka yang besar, sehingga mana yang ada dalam tubuh mereka membuat bau tubuh mereka tercium sangat wangi.”
“heeh…, kau belajar banyak dari buku-buku di perpustakaan tuan Gillian ya”
“kakak hanya terlalu malas membacanya. Padahal semua buku di sana sangat menarik”
“baiklah, baiklah. Tapi…, kira-kira kenapa bulu Flugel dapat hinggap kemari? Jarak Alfheim dan Avantheim sangat jauh.”
-          Flugel adalah ras yang menempati Avantheim. Mereka diberkahi sayap seperli malaikat dan dapat terbang dengan bebas namun memiliki batas ketinggian di atas awan. Flugel memiliki energy mana (sihir) paling kuat dari ke-7 ras yang ada, hal itu membuat mereka mendapat keistimewaan lebih, seperti bau wangi di tubuh dan sayap mereka.
-          Avantheim adalah benua yang ditempati oleh Flugel. Jaraknya sangatlah jauh dengan Alfheim, butuh berminggu-minggu untuk bisa sampai dari Alfheim ke Avantheim menggunakan karavan. Meskipun para Elf dan makhluk lainnya bisa menggunakan teleportasi untuk berpindah tempat, namun akan diperlukan banyak sekali Mana untuk merapal satu mantra.
Huse Nampak berpikir keras menemukan alasan kenapa bulu Flugel itu dapat terdampar di bukit halaman mereka, tetapi sebelum kepalanya mampu menemukan jawaban itu, sesuatu terjadi. Tanah berguncang di sekitar mereka, sesuatu jatuh dengan keras ke tanah. Dari kecepatannya, mungkin tanah itu akan tercipta kawah. Debu bertebaran, tanah hancur. Yui dan Huse segera beranjak dari tempat mereka, lalu dari kumpulan debu itu kembali lagi melesat sesuatu. tubuhnya terkepul debu ketika ia melesat terbang, namun pada ketinggian berikutnya, debu-debu itu menghilang dan menampakkan wujud yang mungkin dapat menjawab pertanyaan Huse.
Seorang Flugel dengan baju perang ras dan pedang tajam di tangannya terbang ke langit, kemudian ia menukik dan menghantam sesuatu. Flugel itu menghantamkan pedangnya pada sesuatu yang besar dan terbang. Huse dan Yui hanya memperhatikan pertarungan mereka dalam diam, tak mampu berkata apa-apa.
Flugel itu mengayunkan pedangnya pada seekor burung raksasa di langit, itu adalah seekor Phoenix, binatang buas yang sangat sulit di kendalikan. Dari atas Phoenix tersebut terlihat seorang yang menungganginya, dia pastilah seorang Valkirie. Pedang Flugel itu berkilatan di langit, memantulkan cahaya Diabolus yang berwarna keperangan di langit malam. Sayap-sayap phoenix itu juga tidaklah kalah menyilaukannya. Seperti Uriel di malam hari, membara seperti api-api yang berkobar. Untuk beberapa fraksi detik, langit malam itu menjadi sangat terang oleh mana.
“kakak, ada apa ini? apa yang dilakukan Flugel dan Valkirie itu?”
“tenanglah Yui, untuk sekarang, kita kembali dulu ke rumah dan memperingati kakek dan nenek. Kita harus menjauh dari sini, kekuatan Flugel dan Valkirie bisa membelah gunung menjadi 2.”
Huse menuntun Yui mengikutinya menuju rumah, mereka berlari sekuat tenaga agar dapat menghindari pertarungan itu. Ketika rumah mereka sudah terlihat tidak jauh, senyum merekah di bibir Yui dan Huse. Tetapi tidak lama. Seberkas cahaya tiba-tiba melesat cepat dari belakang mereka, cahaya putih dan menyilaukan itu melewati rumah mereka, kemudian dari rumah itu terciptalah ledakan dahsyat yang menyebabkan gelombang udara dan menghempaskan Yui dan Huse beberapa meter. Huse menatap tidak percaya apa yang dilihatnya. Cahaya itu menghancurkan rumah mereka dengan kakek dan neneknya berada di dalam sana.
“kakak…, apa…ini…??”
“Yui…”
“apa yang terjadi?!!”
Mata Yui meneteskan air bening, dia menangis. Huse masih berusaha menemukan tanda-tanda kehidupan di sana, namun nihil. Kobaran api di sana terlalu besar, mustahil ada orang yang bisa selamat dari itu. Berkasan cahaya tadi adalah mana, karakteristik Flugel. Huse memeluk Yui, ia kemudian kembali menatap ke langit, pertarungan itu berhenti, dan langit kembali menjadi gelap dan tenang.
“ada apa ini? kenapa Flugel ada di Alfheim? Kenapa kakek dan nenek….”
“tenanglah…, Yui. Kita akan mencoba mencari mereka.”
Huse berusaha menenangkan Yui, fakta bahwa mereka telah menjadi yatim piyatu dan sebatang kara membuatnya sesak. Ia ingin tahu alasan kenapa ada Flugel dan Valkirie yang bertarung di langit Alfheim? Di saat itu juga, muncul seseorang dari belakang mereka. Berdiri dengan angkuh dan tatapan yang menunjukkan belas kasihan saat menatap kedua bocah itu.
“Huse, Yui…”
Itu suara yang mereka kenali di manapun. Yui menghentikan tangisnya dan menengok ke belakang, sementara Huse masih mengamati kobaran api itu dalam diam.
“tuan Gillian…”
maaf karena aku terlambat. Aku berusaha mencegah mereka bertarung, tapi kurasa waktu yang kupunya tidak cukup.
“nah, tuan Gillian…, apa yang dilakukan Flugel dan Valkirie itu di atas sana?”
Huse menatap Gillian dengan mata berkaca-kaca. Beberapa meter dari tempatnya terduduk, rumahnya sedang terbakar hebat. Kedua orang yang sudah bersusah payah membesarkannya kini sudah tiada. Seperti ayah dan ibunya. Huse tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada Yui.
“apa yang kau pikirkan tentang itu, Huse?”
“bukankah Hukum territory melarang serangan pada ras lain? Dan penggunaan zirah perang sudah tidak diizinkan lagi. Tapi kenapa…”
“hmm…, maafkan aku karena tidak bisa menyelamatkan Rokki dan Imelda, sebagai seorang teman, aku akan mengambil tanggung jawab atas kalian. Dan meyakinkan mereka untuk mati dalam damai…”
Tak ada jawaban, Huse maupun Yui kini menatap sendu kobaran api yang membakar habis rumah kecil mereka, bersama dengan kakek dan nenek mereka di dalamnya. Huse mengetahui ada yang salah di sini. Dia ingin mengetahui apa yang terjadi? Kenapa Flugel dan Valkirie bertarung? Kenapa hidup mereka hancur?
“tuan Gillian…, aku ingin menjadi kuat”
“hmm?”
“aku ingin menjadi kuat untuk melindungi Yui, aku ingin menjadi lebih kuat untuk mengetahui rahasia dunia ini.
“jadilah kuat…, ini hanya sebuah awal. Ada sesuatu yang lebih buruk menunggu di masa depan. Aku tidak tahu apa itu, tetapi seperti sebuah kehancuran.”
“demi melindungi Yui, apapun akan kulakukan!”
Malam itu, Diabolus ikut berduka bersama Huse dan Yui. Huse bertekad untuk mencari tahu apa yang terjadi, dan dengan begitu, dia akana terus melindungi Yui. Sejak saat itu, 2 kakak beradik itu tinggal bersama Gillian, dan kehidupan mereka yang lain dimulai lagi dari awal.


 ***

Selasa, 18 Agustus 2015

MUSHIBUGYO
BIRTH DAY IN LOVE

Genre: romance, friendly, Sho-ai

Pair: Mugai x Jinbei

Rating: semi-M

Disclaimer to: Hiroshi Fukuda-sensei

Sumarry:
Hari ulang tahun Mugai adalah hari istimewa bagi Tsukishima Jinbei. Dengan sedikit dorongan dari Kotori dan informasi dari Koikawa, Tenma, juga Hibachi, samurai muda itu menyerahkan semua yang ada pada dirinya pada Mugai sebagai hadiah. Maksud dari semua yang ada pada dirinya adalah seperti bisnis prostitusi.

















Tanah tua negeri sakura bersinar diterpa mentari pagi. Edo nampak memukau dengan kilauan surya diatasnya, ibukota Jepang ini terus berkembang diambang zaman, berusaha beradaptasi dengan evolusi dunia.
Di zaman ini, Edo di teror oleh wabah monster yang mengerikan. Serangga berukuran raksasa berkeliaran bebas ditanah-tanah ibukota Edo, membunuh dan memangsa manusia yang tinggal di dalamnya. Alasan kemunculan mereka masih tak diketahui.
Menanggapi wabah mengerikan ini, pemerintahan Edo mengutuskan dibentuknya organisasi khusus untuk membasmi serangga-serangga raksasa itu. Berbagai konspirasi bermain di dalam pemerintahan hingga dibentuklah organisasi tersebut. Mushibugyo, adalah departemen khusus berisi orang-orang dengan kemampuan spesial yang dirancang untuk membunuh dan mengalahkan serangga raksasa yang meneror Edo.
Mushibugyo dipimpin oleh seorang yang disebut Mentri Serangga. Semua keputusan diambil berdasarkan arahannya. Organisasi Mushibugyo sendiri dijalankan oleh beberapa orang yang memiliki kemampuan luar biasa. Orang yang menjadi perwakilan dari Mentri Serangga diberikan wewenang khusus sebagai pimpinan asosiasi.
“Oyaho gozaimasu, Tenma-dono!”
Suara brisik dari sapaan seorang samurai muda bernama Tsukishima Jinbei menggelegar di depan kamar Ichinotani Tenma, seorang Onmyoji muda dengan bakat luar biasa. Pintu kayu yang membatasi dunia luar dengan bagian dalam kamar itu terbuka. Seorang anak laki-laki dengan potongan rambut mangkuk keluar sambil mengucek matanya. Nampak dia tidak senang dibangunkan dengan suara Jinbei.
“aa-ah..., Jinbei-san. Ohayo...”
“Tenma-dono! Bisakah anda ikut latihan bersamaku hari ini?”
“eeh? Kenapa?”
“aku harus bertambah kuat untuk membalas budi Mugai-dono! Saat berkunjung ke rumah Kawashima-dono kemarin, aku hanya menjadi seorang penghalang bagi Mugai-dono. Aku harus melatih tubuhku agar bisa bersanding dengan Mugai-dono!!”
Mata berapi-api dan latar letusan gunung  berapi menjadi background semangat Jinbei, membuat silau penglihatan Tenma. Pintu kamar Tenma tertutup. Jinbei melongo diluar. Ini sudah yang ketiga kalinya dia ditolak ajakannya oleh yang lain. Pertama adalah gadis Ninja spesialis peledak, Hibachi, lalu pria yang memotong semuanya bahkan dengan gergaji, Koikawa. Semangatnya terasa pudar sedikit demi sedikit.
Jinbei berjalan lunglai kearah halaman tengah lingkungan asosiasi Mushibugyo. Inderanya menangkap sosok yang berjalan ke arahnya. Pria tinggi dengan rambut putih yang panjang dan wajah tampan. Tangan kanannya tak pernah lepas menggenggam senjata besar yang digunakannya untuk menghancurkan serangga yang ia temui. Jinbei berhenti melangkah, menatap lekat sosok Mugai dengan sedikit lesu.
“o-ohayo, Mugai-dono.”
Sapaannya begitu lemah tak bertenaga. Melihat sosok Mugai yang berdiri tegak di hadapannya membuat ia merasa tidak bisa menggerakkan tubuh. Orang itu begitu kuat dan berani, ia seperti tak ada apa-apanya dibanding sosok Mugai yang tengah berhenti menatapnya sekarang.
“ada apa?”
Mugai bertanya dengan aksen datar khasnya. Jinbei tersadar dari pergulatan intrapersonalnya. Ia fokus menatap Mugai, wajahnya memerah, lalu tertunduk mencari alasan.
“ti-tidak. Aku hanya sedang mencari teman latihan untuk bisa lebih kuat lagi. Aku harus bisa menjadi orang yang bisa anda andalkan, Mugai-dono! Suatu hari nanti, aku akan membalas budi kepadamu! ”
Tatapan meluap-luap oleh semangat dilemparkan sang samurai muda kearah mata Mugai. Sedikitnya, itu menyentuh perasaan Mugai. Sedikit senyum yang tak ketara melengkung d bibir Mugai. Tangan besar itu melayang dengan sendirinya, lalu meraih puncak kepala sang samurai muda. Mengacak pelan surai diatas kepala dengan wajah yang manis. Jinbei hanya tertegun.
Mugai kembali melangkah meninggalkan Jinbei setelah mengusap kepalanya. Jinbei menatap punggung Mugai sambil memegangi kepalanya yang diusap oleh tangan besar Mugai. Wajahnya memerah. Sambil tersenyum, ia merunduk dalam kearah Mugai yang tak berbalik sedikitpun. Tapi tanpa diketahui oleh si Samurai muda, mata Mugai melirik sekilas kearahnya.
Jinbei berlatih seorang diri di halaman tengah istana, pagi yang cukup sibuk baginya. Maksudku, terkalah apa yang dilakukannya dengan sebuah kayu panjang yang diselimuti oleh 3 buah batu besar sebagai pemberat. Itu caranya melatih lengan dan yunan tangannya saat memegang Samurai miliknya. Beberapa orang menganggapnya berlebihan, seperti Hibachi misalnya. Gadis peledak itu lebih suka melempar bom rancangan terbarunya pada Jinbei daripada harus membantunya berlatih.
“oi, Tsukishima!!”
Suara merdu gadis peledak itu menggelegar di telinga Jinbei, perhatian samurai muda itu langsung teralihkan ke sosok Hibachi yang berlari kecil ke arahnya. Jinbei menghentikan ayunannya.
“ada apa, Hibachi-dono?”
“ne, bisakah kau menemaniku belanja sebentar? Aku sudah mengajak Tenma, tapi sepertinya dia agak sibuk. Kau mau kan?”
“hmm..., baiklah kalau begitu. Tunggu sebentar, Hibachi-dono!”
Jinbei melemparkan bahan latihannya kesembarang arah sehingga menimbulkan bunyi bedebam. Ia menatap Hibachi sambil tersenyum senang. Sedikitnya, gadis peledak merasa bersalah karena mengajak samurai muda itu untuk menemaninya sementara tadi ia menolak mentah-mentah ajakannya untuk latihan bersama. Dalam hatinya, ia berpikir untuk menebus kesalahannya dengan membiarkan Jinbei mencoba bom buatan terbarunya.
“Hibachi-dono?!”
Karena terlalu larut dalam khayalannya yang entah bertujuan baik atau buruk, Hibachi sampai lupa untuk segera pergi. Seruan Jinbei menyadarkannya segera.
Keduanya berjalan dengan santai di area pemukiman Edo, melirik beberapa toko perlengkapan. Hibachi beberapa kali singgah di toko tertentu, namun keluar dengan tangan kosong. Jinbei agaknya penasaran dengan sesuatu yang hendak dibeli oleh Hibachi.
“na, Hibachi-dono. Benda seperti apa yang akan anda beli?”
Tutur kata Jinbei sopan seperti biasanya, tapi bentuk pertanyaan itu sedikit membuat Hibachi kesal dan malu. Ia tak ingin terlihat begitu feminin di hadapan orang lain. Kecuali di hadapan orang itu. Pria yang sudah merebut hatinya sejak pertama kali bertemu. Mugai.
“ha-haah?! I-itu bukan urusanmu, bodoh! Aku hanya memintamu untuk menemaniku kan? Jangan menanyakan hal lain!”
Jinbei swetdrop dibuatnya, dengan melongo ia hanya berpikir tentang sesuatu yang memalukan. Sesuatu yang mampu membuat wajah Hibachi semerah itu. Tapi ia menghentikan rasa penasarannya. Atau lebih menekannya.
“a-aah, baiklah kalau begitu.”
Keduanya berjalan lagi, kembali singgah di sebuah toko. Kali ini, adalah sebuah toko aksesoris. Jinbei seperti sebelumnya, hanya menunggu di luar. Saat sedang bersenandung dengan senangnya, mata samurai muda itu menangkap sosok yang familiar. Segera ia berjalan menyapa orang itu dengan cepat.
“Oharu-dono! Ohayo gozaimasu!!”
Seorang gadis berkimono pink dengan dada yang besar berhenti dan menatap Jinbei. Senyum merekah di bibirnya saat mendapati Jinbei sedang merunduk dalam di hadapannya.
“aah, Jinbei-sama, ohayo gozaimasu!”
“Oharu-dono, anda ingin kembali ke kedai?”
“um! Jinbei-sama sendiri, sedang apa di sini?”
“aah..., aku hanya menemani Hibachi-dono membeli sesuatu. kalau begitu, sampai jumpa!”
“baiklah. Sampai jumpa.”
Gadis itu, Haru, melangkah menjauh sambil melambai pada Jinbei. Jinbei kembali ke depan toko yang tadi mereka singgahi. Tepat saat itu juga, Hibachi keluar dari toko tersebut. Seperti biasa, tak ada yang dipegangnya.
“eh? Hibachi-dono, anda belum menemukan benda yang anda cari?”
“aku sudah menemukannya. Ayo, kembali.”
“baiklah!”
Keduanya berjalan kembali ke kantor Mushibugyo. Di tengah perjalanan, rasa bersalah yang sempat dirasakan oleh Hibachi tadi pagi muncul kembali. Itu membuatnya ingin segera melunasi hutangnya karena telah mengajak Jinbei menemaninya belanja selama 3 jam lebih.
“na-naa, Tsukishima.”
“hm? Ada apa, Hibachi-dono?”
“a-akan kuperjelas, ini bukan karena aku merasa berhutang atau apa ya! Aku hanya ingin berterima kasih karena sudah menemaniku berbelanja. Akan kujawab satu pertanyaanmu.”
“uwaahh..., benarkah itu, Hibachi-dono?!”
Jinbei menatap Hibachi dengan mata berbinar. Sementara gadis itu hanya memalingkan wajahnya ke arah lain, tak ingin memperlihatkan wajah merahnya pada Jinbei.
“tentu. Jadi cepatlah bertanya!”
“baiklah! Kalau begitu, aku ingin tahu apa yang Hibachi-dono beli!”
Sebuah pukulan keras mendarat di puncak kepala Jinbei, samurai muda itu meringis merasakan sakit di kepalanya.
“aku akan menjawab pertanyaan lain asal jangan yang itu!!”
“ke-kenapa?!”
“itu rahasia bodoh! Tanyakan yang lain!”
“ba-baiklah. Mungkin, alasan Hibachi-dono membeli hadiah itu?!”
Hibachi berhenti melangkah. Wajahnya memanas sempurna. Ia tak ingin menjawab pertanyaan itu karena ia berpikir bahwa Jinbei pasti menebak bahwa apa yang dibelinya sudah pasti adalah sesuatu yang berhubungan erat dengan jawaban pertanyaan itu. Tapi ia juga telah berjanji untuk menjawab pertanyaan samurai muda itu.
Hibachi menghela napas panjang. Ia menetralkan warna wajahnya sejenak.
“kau masih anak baru. Jadi kau tentu belum mengetahui ini.”
“hmm?”
“3 hari lagi, Mugai-san akan berulang tahun. Orang-orang tida merayakannya, karena Mugai-san tidak menyukai pesta. Jadi yang lain hanya memberikannya hadiah.”
Hening diantara mereka. Setelah kalimat panjang itu keluar dari mulut Hibachi, tak ada sedikitpun suara dari Jinbei. Gadis itu beralih menatap Jinbei. Ia melihat raut keterkejutan di wajah samurai muda itu. Hibachi terheran.
“Tsukishima?!”
“huwaaaa!!!! Be-benarkah itu, Hibachi-dono?!!”
“y-ya, benar. Bisakah kau tenang sedikit?”
“aku tidak bisa tenang sekarang! 3 hari lagi adalah ulang tahun Mugai-dono, dan aku belum melakukan apapun untuknya! Aku harus mencari hadiah untuknya! Hibachi-dono, bisakah anda kembali sendiri? Aku ingin mencari hadiah untuk Mugai-dono!”
“a-aah, baiklah.”
“yosha!! Mugai-dono!!!!!!!”
Dengan sekuat tenaga Jinbei berlari kembali ke daerah pemukiman padat penduduk, mencari sesuatu yang disebut hadiah untuk diberikannya pada Mugai yang faktanya akan ulang tahun 3 hari lagi. Sedikitnya, Hibachi iri dengan sifat pemuda samurai itu. Dia sangat berterus terang dan tidak menyembunyikan apapun. dan kenyataan bahwa tingkat kepolosannya itu malah membuatnya terlihat bodoh. Tapi selain itu, Jinbei adalah tipe orang pekerja keras. Pasti banyak orang menyukainya. Setidaknya itulah yang dipikirkan Hibachi sambil kembali ke markas Mushibugyo.
Jinbei berjalan terburu mencari toko untuk hadiah yang hendak ia berikan kepada Mugai. Namun, ia mendapatkan kendala yang sangat besar. Ia tidak tahu hadiah seperti apa yang bisa diberikannya pada Mugai. Pria itu adalah sebuah keberadaan yang luar biasa menurut Jinbei, akan sangat tidak pantas jika memberikannya hadiah yang biasa-biasa saja padanya. Jinbei merengut, sesekali ia menendang batu yang dilihatnya tergeletak di tanah. Kesal dan sedikit sedih.
“ara, Jinbei-san? Irashaimasen!”
Suara lembut Haru menghentikan langkah kaki Jinbei, ia menghadap ke kanan. Didapatinya warung makan Haru di sana, dengan gadis berdada besar itu di depannya sedang menyambut tamu seperti biasa.
“aah, Oharu-dono! Konichiwa de gozaimasu!”
Jinbei merunduk dalam kearah Haru, gadis itu tersenyum senang.
“silahkan masuk, akan kubuatkan beberapa dango untukmu.”
“aah, kurasa aku tidak bisa menerimanya sekarang, Oharu-dono.”
“hmm? Kenapa?”
“aku sedang mencari hadiah.”
“hadiah?”
“ya. Mugai-dono akan berulang tahun 3 hari lagi, aku ingin memberikannya hadiah. Tapi aku tidak tahu hadiah seperti apa yang diinginkannya. Aku juga tidak tahu harus melakukan apa.”
Wajah memelas Jinbei mengundang senyum di bibir Haru. Gadis itu berpikir sebentar. Kemudian ia menemukan ide.
“kenapa tidak menanyakan pada anggota Mushibugyo yang lain, Jinbei-san?”
“eh?”
“hmm..., kurasa, karena mereka lebih lama bersama Mugai-san, sepertinya mereka akan tahu apa yang Mugai-san sukai. Bagaimana?”
“ah! Arigatou gozaimasu, Oharu-dono!! Aku tidak memikirkan itu sebelumnya. Kalau begitu, sampai jumpa, Oharu-dono!”
“baiklah. Sampai jumpa.”
Jinbei berlari sekuat tenaga menuju ke markas besar Mushibugyo, berharap dapat menemukan beberapa orang yang bisa memberinya petunjuk soal apayang ingin diketahuinya. Beberapa kali ia membuka tutup beberapa pintu ruangan sambil menyerukan nama yang ia ketahui seharusnya berada di sana. Sampai ia berhenti di halaman belakang markas, ia menemukan salah satunya.
Koikawa sedang asyik bermabuk ria di bawah naungan pohon. Cawan arak bertengger manis di tangannya, beberapa kali ia terlihat bersenandung dan cegukan. Mabuk di siang hari.
“Koikawa-dono!!!”
Suara cempreng Jinbei menyadarkan Koikawa segera dari pengaruh alkoholnya. Entahlah, ia bisa mabuk-mabukan dengan puluhan gentong arak. Tapi suara samurai muda itu selalu membuatnya tidak bisa mabuk dan segera sadar kembali. Pria yang dikenal sebagai pembunuh 99 itu menatap heran Jinbei yang terlihat sangat bersemangat.
“aah. Ada apa, anak baru?”
“Koikawa-dono! Aku ingin menanyakan sesuatu, jika berkenan, maukah andamendengarnya?!”
“hmm? Tanyakan. Akan kujawab jika bisa.”
“arigatou gozaimasu, Koikawa-dono!”
Koikawa tak bisa menahan senyumnya saat melihat wajah antusias samurai muda itu. Pemuda pendek itu punya cara sendiri untuk membuatnya menghiraukan sekeliling dan hanya memusatkan perhatian padanya. Padahal anak itu bodoh. Begitu pikir Koikawa.
“lalu, pertanyaanny?”
“ano..., begini. Aku baru tahu dari Hibachi-dono tadi pagi. 3 hari lagi, adalah ulang tahun Mugai-dono. Aku ingin tahu hadiah seperti apa yang biasa kalian berikan untuknya?!”
Koikawa mendecih. Baru kali ini ia merasa terganggu dengan wajah bersemangat. Perasaan mengganggu apa ini? Untuk apa dia melakukan hal seperti ini hanya untuk si Mugai itu? Hal tidak berguna seperti ini.
“aku tidak tahu!”
Koikawa menjawab ketus sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Takut jikalau nanti ia akan menjawab pertanyaan itu karena tak sanggup melihat wajah memohon Jinbei.
“heeh..., kenapa?! Koikawa-dono! Tolong beritahu aku! Koikawa-dono!! Ayolah, akan kulakukan apapun untukmu!!”
Gotcha! Kalimat itu baru saja membuat Koikawa tersengat aliran listrik ringan. Ia tengah berpikir untuk melakukan hal aneh pada Jinbei sebagai ganti untuk jawaban yang diinginkan pemuda samurai itu.
“baiklah. Sebagai gantinya, kau harus melakukan satu perintah dariku.”
“um! Baiklah! Akan kulakukan!”
“kau ini benar-benar menarik.”
Koikawa terdiam sejenak, mencoba mengulang kejadian beberapa waktu yang lalu saat perayaan ulang tahun Mugai. Seingatnya, tidak pernah ada perayaan untuk itu. Itu karena Mugai tidak menyukai perayaan atau semacamnya.
“aku hanya mengajaknya minum, lalu Hibachi akan datang dengan tumpukan makanan. Tapi kemudian pria itu pergi dan sampai besok baru bertemu kembali. Dia selalu seperti itu.”
“benarkah?”
“um. Nah, karena pertanyaanmu sudah kujawab. Sekarang saatnya kauuntuk menuruti perintahku.”
“baiklah. Apa itu, Koikawa-dono?”
“pertama, kau harus-“
“Jinbei-saan!!!!”
Suara Tenma yang melengking di sekitaran area itu mengintrupsi kegiatan yang sedang dilakukan oleh kedua pemuda itu. Terutama Koikawa. Jinbei lebih fokus pada namanya yang menjadi objek teriakan itu. Jinbei segera berdiri dari tempatnya, mencoba menemukan sosok Tenma.
“ah, sumimasen, Koikawa-dono! Bisa kita lanjutkan nanti?”
Tanpa menunggu jawaban si pembunuh 99 itu, Jinbei langsung melesat pergi mencari Tenma. Koikawa melongo di tempatnya, dalam hati ia mengutuk bocah bernama Ichinotani Tenma karena telah merusak kesempatannya berduaan dengan samurai tercintanya.
Jinbei menemukan sosok Tenma di tengah halaman markas. Anak itu terlihat sedang bingung. Jinbei menghampiri bocah itu.
“ada apa, Tenma-dono? Anda terlihat kebingungan.”
“um! Maaf memanggilmu sekarang, Jinbei-san. Aku ingin meminta tolong.”
“um? Apa itu?”
“tadi, saat latihan. Aku kehilangan Tamekichi. Aku sedang mencarinya, tapi dari tadi tidak ketemu. Apa kau bisa membantuku?”
“osu! Tentu saja! Aku, Tsukishima Jinbei, akan membantu anda untuk menemukannya!”
“um. Terima kasih. Aku jadi merasa tidak enak karena tadi pagi menolak ajakanmu.”
“tidak perlu dipikirkan. Ah, Tenma-dono. Bukankah akan lebih mudah jika membuat Tamekichi menjadi besar? Bukankah anada bisa melakukannya?”
“um! Tapi, resikonya terlalu besar. Aku tidak tahu dia berada di mana. Jika sampai aku menjadikannya besar sementara ia berada di tempat publik, itu hanya akan menimbulkan kerusakan yang tidak perlu. Jadi, aku hanya bisa mencarinya dengan cara ini. Maaf.”
“tidak perlu meminta maaf! Aku paham situasinya. Aku akan dengan senang hati membantu anda menemukannya.”
Jawaban Jinbei menciptakan lengkungan senyum di wajah Tenma. Bocah itu merasa bahagia berduaan dengan samurai muda itu. Maksudnya, hilangnya Tamekichi hanyalah sebuah alasan kosong supaya ia bisa berduaan dengan Jinbei. Terkadang ia harus merelakan harga dirinya untuk bersama samurai muda itu. Ia akan menjadi anak ceroboh dan atau anak yang sangat polos saat bersama Jinbei. Semua itu hanya agar Jinbei memberinya lebih banyak perhatian. Sejak pertama ia percaya pada Jinbei, ia sudah menyerahkan semua yang ada dalam dirinya pada Samurai muda itu.
“jadi, Tenma-dono. Kita mulai dari mana?”
“ah, soal itu. Kita bisa mencari di bagian belakang markas, karena tadi aku melakukan latihan di sana. Tapi, karena Tamakichi terbuat dari kertas, dia mungkin diterbangkan angin. Jadi, mungkin kita harus mencari seluruh bagian markas. Apa bisa?”
“hmm..., tentu saja! Aku, Tsukishima Jinbei akan membantu Tenma-dono! Ayo kita cari!”
“um!!”
Wajah bahagia Tenma dihiasi rona merah. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri bertambah cepat karena berada di dekat Jinbei. Tapi, ia sama sekali tak keberatan. Ia bahagia.
Pencarian atas Tamekichi memakan waktu hingga sore hari. Pada akhirnya, shikigami berbahan kertas mantra itu ditemukan di balik guci di dalam kamar Tenma. Keduanya bersorak setelah menemukan Shikigami tersebut, Jinbei menebarka feromon tanpa sengaja dan berhasil membuat Tenma harus menahan diri untuk memeluk samurai muda tersebut.
Malam harinya, Jinbei berkeliaran di sepanjang gedung luas bangunan markas Mushibugyo. Wajahnya kebingungan mencari sesuatu. atau seseorang. Matanya fokus pada seseorang yang muncul tiba-tiba dari sudut ruangan. Rambutnya hitam legam, dengan kacamata bulat kecil menggantung diantara hidungnya.
“ah, Kotori-dono!!!”
Suara menggelegar Jinbei segera membuat fokus pria itu teralihkan pada si samurai muda. Ia berhenti berjalan dan berdiri berhadapan dengan Jinbei.
“ada apa, Jinbei-kun?”
“Kotori-dono, ada yang ingin kutanyakan pada anda”
“hm? Apa itu?”
“aku ingin tau, hadiah seperti apa yang anda berikan kepada Mugai-dono saat ulang tahunnya?”
“hm? Kenapa tiba-tiba?”
“yaah..., 3 hari lagi adalah ulang tahun Mugai-dono. Aku sendiri tidak tahu hadiah seperti apa yang dia inginkan. Jadi, setidaknya aku tahu hal seperti apa yang mungkin diinginkannya.”
“ah, benar juga ya. 3 hari lagi ulang tahun Mugai. Aku baru ingat. Mugai itu tidak menyukai perayaan, jadi dia lebih suka menyendiri saja. Jika ada yang sempat memberinya hadiah, maka itu adalah Hibachi. Lalu, Koikawa mungkin akan menraktirnya minum.”
“hhh..., aku masih bingung apa yang harus kuberikan padanya.”
Kotori berpikir sejenak. Ia memandang Jinbei dengan seksama. Sedikit pikiran jahil muncul di kepalanya. Ia membayangkan keadaan dimana Jinbei dengan malu-malu menawarkan diri untuk menjadi teman latihan Mugai. Ia ingin melihat reaksi pria rambut putih itu. Pasti menarik menyaksikan ekspresi tak tentu dari Mugai. Jawaban baru saja keluar dari mesin pencetak di kepalanya.
“hm.., jika dengan Mugai. Sebaiknya kau memberikan sesuatu yang sangat penting untukmu. Dan kau harus memberikannya sepenuh hati. Kira-kira seperti itu. Aku yakin, dia akan tersentuh. Aku juga menyarankanmu untuk memakai Yukata biasa untuk bertemu dengan Mugai nanti.”
“be-benarkah itu, Kotori-dono?!”
Kotori agak terperanggah dengan wajah antusias Jinbei. Anak itu percaya pada apa yang dikatakannya. Manis sekali.
“yah, begitulah. Kalau begitu, sampai nanti ya, Jinbei-kun.”
“baiklah, Kotori-dono! Arigatou gozaimashita!!”
Waktu berlalu, Jinbei memantapkan pilihan hadiah yang akan ia berikan kepada Mugai. Pada hari yang ditunggu-tunggunya, Jinbei bersiap dengan segala hal yang ingin ia lakukan. Ia sudah mengamati Mugai dari sejak pria berambut putih itu keluar dari ruangannya di sore hari, menerima kado dari Hibachi, kemudian minum bersama Koikawa dan Kotori. Hingga saat ia hanya sendirian di ruangannya.
Jinbei mengamati kesendirian Mugai dalam diam, berharap bahwa sosok yang dikaguminya itu tak menyadari keberadaannya sekarang.
Waktu sudah menunjukkan larut malam. Bocah samurai itu masih menatapi Mugai yang duduk manis menatap bulan. Perasaan gusar tiba-tiba menghinggapi hatinya, ia tak yakin apakah Mugai akan menyukai hadiah yang akan ia persembahkan padanya nanti. Bagaimana jika Mugai menolaknya dan malah membencinya karena hadiah itu. Saking galaunya dia, sampai tak menyadari bahwa orang yang menjadi objek kegelisahannya sudah mengetahui keberadaannya.
“menguntit orang lain itu tidak sopan. Bocah Kentang!”
Suara baritone khas orang dewasa itu segera menyadarkan Jinbei dari tingkah dongkolnya. Segera ia berdiri saat mengetahui bahwa penyamarannya sudah terungkap. Jinbei merunduk dalam, gugup kini menguasainya.
“Mu-Mugai-dono! Ma-maafkan kelancanganku! A-aku tidak bermaksud...”
“kau membuntutiku seharian. Lalu apa maksudnya itu?”
“ma-maafkan aku! A-aku akan segera pergi!”
“jika ada yang ingin kau katakan. Katakan saja. Bocah Kentang!”
“ba-baiklah! A-aku ingin mengucapkan, selamat ulang tahun untuk anda, Mugai-dono! Erm...”
Jinbei terdiam sejenak, pikirannya melayang pada apa yang hendak dikatakannya selanjutnya. Wajahnya memerah dengan sikap yang sangat aneh. Matanya melirik tak tenang sekeliling, membuat Mugai yang menikmati pemandangan itu melengkungkan senyum simpul.
“hanya itu?”
“u-uhm..., aku ingin memberikan anda hadiah. Tapi entahlah apa itu akan membuat anda senang atau tidak.”
“hmm?”
“aku mendengar dari Kotori-dono bahwa, anda sangat menghargai sesuatu yang diserahkan sepenuh hati. Karena itu terkesan sangat penting.”
Mugai hanya mengangguk kecil. Dalam hati, ia mengutuk Kotori karena telah mengarang cerita konyol tentangnya. Bayangan Kotori yang dilemparkan kedalam sarang serangga raksasapun terlintas dikepalanya.
“ja-jadi. Aku ingin memberikan sesuatu yang seperti itu.”
“apa itu?”
“aku akan memberikan diriku untuk anda, Mugai-dono!!”
Jinbei berseru sambil merunduk dalam-dalam. Dalam hati, ia sempat merutuki kalimat yang dilontarkannya. Kacau sekali, karena rasa malu yang dialaminya, ia sampai tak sadar akan apa yang telah ia katakan. Tanpa ia ketahui, raut wajah Mugai menyiaratkan keterkejutan. Ia tak menyangka samurai muda yang mengganggu pikirannya belakangan ini akan mengatakan hal seperti itu di hadapannya pas dihari yang tidak disukainya. Dalam hati, Mugai mengeluarkan hari ulang tahunnya dari black list dan meletakkannya di rentetan hal yang disukainya. Semua karena bocah kentang itu. Jinbei.
Beberapa saat kemudian, Jinbei mengangkat wajahnya. Rona merah masih bersarang di kedua belah pipinya. Matanya menatap ke arah lain, tak sanggup menatap mata Mugai yang sedari tadi tak melepas pandang darinya.
“a-apakah anda senang dengan itu? Ku-kurasa anda pasti tidak suka. Maafkan aku karena berkata yang tidak-tidak! Aku permisi!”
Air mata penyesalan dan rasa malu hampir merembes di pelupuk mata Jinbei saat berbalik hendak meninggalkan Mugai. Tapi tiba-tiba tubuhnya diam membeku saat ia merasakan tubuh lain menempeli dan memeluk erat tubuhnya. Jinbei sangat terkejut sampai lupa caranya bergerak. Mugai memeluknya dengan erat sekarang.
“Mu-Mugai-dono?”
“sudah berani mengatakan hal seperti itu dan malah pergi? Kau ini benar-benar masih bocah. Kau harusnya bertanggung jawab.”
“eh?”
Dalam sekali gerakan, Mugai membalikkan tubuh Jinbei hingga keduanya berhadapan. Dengan gerakan cepat, Mugai mengeliminasi jarak antaranya dan samurai muda itu. Sepasang bibir lembut Mugai menyentuh bibir mungil Jinbei. Jinbei lupa cara bernapas sekarang. Kejadian ini terlalu mengejutkan baginya hingga ia tak sadar bahwa sedang melakukan hal intim bersama orang yang sangat dikaguminya.
Jinbei gelagapan. Wajahnya memerah sempurna, mulutnya membuka menutup seperti ikan. Pikirannya menjadi kacau akibat tindakan nekat Mugai padanya.
“Mu-Mu-Mu-Mugai-dono!!!??????”
“manis sekali.”
“e-eeeh??!!”
Mugai seperti orang kelaparan yang tidak sabar menunggu giliran sembako. Ia menarik kerah yukata milik Jinbei hingga pangkal leher hingga bahunya terlihat. Mata Mugai berkilat. Tanpa permisi, segera ia kecup batang leher Jinbei. Kedua tangan kekarnya ia gunakan untuk menahan kedua pergelangan tangan si samurai muda. Jinbei mendesah dalam pelukan Mugai. Ia sendiri cukup panik dengan keadaan yang menimpanya.
Jinbei berusaha dengan sekuat tenaga, mendorong dan melepaskan ciuman Mugai yang mulai menghilangkan akal sehatnya. Mugai mendecih kesal saat pekerjaannya diintrupsi. Ia menatap sayu Jinbei yang terengah-engah karena perbuatannya.
“kenapa?”
Jinbei mendongak, matanya sarat akan kebingungan. Bingung dengan pertanyaan ambigu bin tidak jelas Mugai yang baru saja terlontar dari bibir yang mencicipinya barusan.
“ke-kenapa maksudnya? Ma-maafkan aku, aku sama sekali tidak mengerti dengan yang anda lakukan, Mugai-dono! Ada apa ini?”
Berusaha berdiri tegap meskipun kakinya agak gemetaran. Jinbei memperbaiki yukatanya yang berantakan akibat ulah tangan-tangan nakal Mugai.
“kenapa kau menolakku?”
“eh?”
Menolak apa maksudnya?! Jika ia terpaksa harus menolak semua ini karena keadaan yang sama sekali tidak diprediksinya, maka jawabannya adalah iya. Siapa yang tidak terkejut tiba-tiba di serang seperti itu?!
“bukankah tadi kau bilang untuk menyerahkan dirimu padaku? Lalu kenapa kau menolakku?”
“eeh?!! I-itu, kupikir anda mengartikannya dengan cara yang salah!”
“lalu, siapa yang menyuruhmu?”
“Kotori-dono.”
“kenapa kau memakai yukata biasa?”
“ini karena Kotori-dono.”
“apa semua ini ulah Kotori?”
“ya, Kotori-dono.”
Mugai terdengar menghela napas. Jinbei jadi merasa sedikit bersalah. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang, keadaan yang menghampirinya terlalu tiba-tiba. Wajahnya memerah, detak jantungnya meningkat, napasnya tak beraturan. Mugai memperhatikan setiap perubahan fisiologis yang terjadi pada samurai yang sudah mencuri hatinya itu. Beberapa saat kemudian, Mugai mendekati Jinbei. Samurai itu mengalihkan pandangannya.
Mugai membelai surai hitam samurai itu. Lembut sekali. Pikir Mugai. jinbei hanya terdiam ketika Mugai membelai kepala dan wajahnya. Ia tak ingin membohongi diri, bahwa ia juga menikmati sentuhan orang itu.
“apa kau takut?”
“eh?!”
Jinbei segera menatap Mugai. Kata ‘takut’ itu menyentakkannya. Ini pertama kalinya ia diperlakukan seperti ini oleh seseorang. Terlebih orang itu adalah lelaki. Jika ia sedang memegang pedang, sepertinya ia akan segera melepaskan jurus Palu Gunung Fuji pada orang itu. Tapi Mugai berbeda.
“bu-bukan begitu..., ma-maafkan aku, Mugai-dono! Aku hanya terkejut saja. Kurasa.”
Mugai tersenyum. Tangan yang tadi digunakan membelai wajah samurai muda itu kini menangkup wajahnya, membuat wajah itu mendongak hingga bertemu pandang dengannya. Mata itu, mata yang selalu berkilat akan semangat seperti matahari. Entah sejak kapan Mugai menyukainya. Betapa cantiknya.
Ciuman kembali mendarat di bibir mungil samurai muda itu. Namun kali ini tak ada perlawanan sedikitpun. Jinbei hanya diam, menikmati gerakan bibir dan lidah Mugai yang menyentuh bibirnya. Tangan Mugai tak lagi menangkup wajah Jinbei, beralih memeluk pinggang bocah kentang kesayangannya. Di sela ciuman itu, Jinbei mendesah pelan sambil menyamankan posisinya dalam ciuman itu.
4 menit berlalu untuk ciuman itu, Jinbei agak kelabakan mencari pasokan udara. Yukata yang dikenakannya berantakan, tapi sama sekali tak ia perdulikan lagi. Matanya yang biasanya berbinar penuh semangat kini tertutupi kabut nafsu. Saat ia berbalik mencari sosok Mugai, tiba-tiba tubuhnya terasa melayang. Seseorang menggendongnya ala bridal. Mugai tersenyum sambil menatap wajah sayu bocah kesayangannya. Wajah Jinbei memerah malu.
“apa sekarang kau sudah menerimaku?”
“eh?”
“bagaimana?”
Jinbei tak menjawab, ia malah menyembunyikan menyembunyikan wajahnya di dada pria itu. Jinbei tak memahami perasaan yang tengah ia miliki sekarang. Semuanya terasa meletup-letup seperti kembang api. Dan rasanya begitu nyaman hingga ia tak ingin merasakan hal lain lagi. Setiap sentuhan yang diterimanya dari pria itu terasa seperti sengatan listrik.
“lakukan sesuka anda.”
Jinbei menjawab sepelan mungkin, tetapi setidaknya itu masih mampu ditangkap oleh pendengaran Mugai. Mantan Pemburu Serangga itu tersenyum senang. Ia kini tahu bahwa ada hal yang bisa menyenangkannya lebih dari berburu dan menghancurkan serangga. Bocah kentang kesayangannya adalah jawaban semuanya.
Suara parau Jinbei berdengung di dalam kamar Mugai beberapa menit berikutnya. Semua suara itu seperti alunan lagu enka di telinga Mugai hingga ia ingin terus mendengarnya dan tak ingin menghentikannya.
“Mu-Mugai-dono...!! aahh...!!!”
“sedikit lagi, bocah kentang!”
Gerakan Mugai semakin cepat, ia tak lagi memperhatikan temponya sejak 10 menit yang lalu. Rasa nikmat yang menjalari tubuhnya terlalu sulit untuk dikendalikan bahkan baginya sekalipun. Ia tak pernah menyangka tubuh mungil di bawahnya sekarang begitu nikmat hingga terasa sampai ke ubun-ubunnya.
“aah! Ah! Aahh!! Mugai-dono!”
Tangan mungil Jinbei mencengkram bahu telanjang Mugai, menahan sakit dan nikmat yang bersumber dari bagian bawah tubuhnya. Ia sudah menolak semua akal sehatnya, orang yang memerangkapnya kini sudah memenangkan semua darinya, hatinya, perasaannya, dan tubuhnya, semua hanya milik Mugai.
Jinbei mendesah panjang saat tak bisa menahan semburan cairan dari bagian bawah tubuhnya. Cairan itu membasahi tubuhnya dan tubuh Mugai yang masih terus bergerak di bawahnya.
Mugai melenguh berat saat tubuhnya bergetar acak saat menerima friksi puncak kenikmatan yang diinginkannya. Seluruh cairan kental itu tumpah di dalam tubuh mungil samurai yang terbaring lemas di bawah tubuhnya. Napas Jinbei terengah, Mugai roboh diatas tubuhnya, menutupi tubuh telanjang itu sepenuhnya dengan raga telanjang yang lebih besar. Futon yang mereka pakai sudah tak berbentuk, lengket dan sedikit berbau.
Mugai menahan tubuhnya dengah kedua sikunya, menatap lembut wajah samurai muda yang sudah merebut hatinya. Wajah manis itu terlihat memesona dengan ekspresi lelah yang ketara. Mugai menghela napas. Ia mendudukkan tubuhnya, matanya tak lepas memerhatikan tiap inchi tubuh yang masih terbaring di bawahnya.
“hei, bocah kentang.”
Jinbei membuka matanya saat mendengar ‘panggilan sayang’ dari Mugai. Ia mendapati sosok orang yang selalu disukainya itu tersenyum lembut padanya.
“Mu-Mugai-dono...”
Mugai merendahkan tubuhnya, memilih untuk lebih dekat pada bibir yang menyebutkan namanya. Setelah mengecup bibir mungil itu sebentar, Mugai memeluk tubuh telanjang Jinbei, sambil membisikkan kalimat yang berhasil membuat samurai muda itu terperanggah.
“suki da yo. Tsukishima Jinbei”
Tak ada yang perlu dikatakan olehnya, ia sudah cukup sadar sekarang kira-kira perasaan apa yang dirasakannya sejak beberapa waktu yang lalu pada Mugai. Itu bukan hanya sekadar rasa kagum seperti yang dipikirkannya. Itu adalah perasaan yang jauh lebih privat. Dan ia baru menyadarinya sekarang.
“Mugai-dono...”
“mulai sekarang, kau milikku. Jangan pernah pergi dariku.”
“hehe..., anda sendiri, bagaimana? Bukankah membantai serangga itu lebih menyenangkan?”
“aku tidak tahu sejak kapan kau menggantikan posisi kegiatan kesukaanku.”
Wajah Jinbei memerah saat mendengar jawaban jujur Mugai, membuat detak jantungnya semakin kencang. Wajahnya bertambah merah saat menyadari tangan-tangan Mugai mulai mengerayangi tubuh bagian bawahnya. Untuk selanjutnya, lenguhan Jinbei kembali terputar seperti kaset rusak hingga pagi.
“ugh..., Jinbei-kun, ternyata tidak buruk juga saat di kasur. Mugai-san sepertinya sudah tidak bisa menahan diri lagi. Tapi menurutku ini terlalu vulgar. Aku sebaiknya berhenti menguping.”
Diatas atap kamar Mugai, sosok Kotori Matsunohara mati-matian menahan cairan merah yang terus keluar dari hidungnya akibat kegiatan live action MugaJin yang baru saja diamatinya sejak 40 menit yang lalu. Ia harus segera mencari toilet, dampak rencananya terlalu besar baginya. Ia tak menyangka Mugai begitu terang-terangan dan mengerayangi Jinbei seperti miliknya sendiri. Kotori sedikit mengutuk diri.
“cerita ini berjalan dengan baik melebihi target rencana. Ha-haha-hahaha...”
Tawa aneh Kotori memenuhi toilet markas besar Mushibugyo, untung saja sekarang sudah lewat jam tidur. Ia tidak perlu khawatir.
Pada akhirnya, ia bermain dengan sesuatu yang tak seharusnya ia lakukan mungkin. Tapi ini berlangsung lebih baik. Dan selesai dengan baik pula. Tidak sia-sia jiwa fudanshinya ia pelihara sejak kecil. Kha-kha-kha!!

FIN